PENGUMUMAN KELULUSAN SPAN-PTKIN 2024

METAMORFOSIS IAIN PALOPO DARI MASA KE MASA

METAMORFOSIS IAIN PALOPO DARI MASA KE MASA

METAMORFOSIS IAIN PALOPO DARI MASA KE MASA

Palopo (Humas) – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo merupakan perguruan tinggi pertama di Tana Luwu. Sejarah panjang kehadiran Institut Agama Islam Negeri Palopo tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, yang dulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang.

Seiring permintaan masyarakat dan Pemerintah di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, maka IAIN Alauddin Ujung Pandang mengembangkan beberapa Fakultas filial yang di kemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya beberapa Institut Agama Islam Negeri, satu diantaranya adalah Fakultas Ushuluddin di Palopo, (pada tahun 1968).

Munculnya Ide Pembukaan Kelas Filial di Palopo
Keinginan membuka perguruan tinggi di Tana Luwu sejatinya sudah ada sejak periode kedua kepemimpinan Andi Rompegading selaku Bupati Luwu (menjabat tahun 1966-1967, 1976-1978). Bersama H. Muhammad Rasyad, tokoh masyarakat yang saat itu menjabat Ketua DPR-GR Kabupaten Luwu menggagas pembukaan kelas filial IAIN Alauddin Ujung Pandang di Palopo. Gagasan tersebut direstui H. M. Sanusi Daeng Mattata, salah seorang tokoh masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, di pertemuan selanjutnya menghadirkan Drs. H. Ramli Yaqub, salah seorang tokoh dari Tana Luwu yang saat itu menjabat Pembantu Rektor Bidang Administrasi IAIN Alauddin Ujung Pandang.

Pertemuan-pertemuan tersebut sekaligus menyerahkan “mandate” kepada Drs. Ramli Yaqub untuk mengkomunikasikan dengan pihak Rektor IAIN Alauddin dan Departemen Agama di Jakarta tentang kemungkinan membuka kelas jauh (filial) IAIN Alauddin Ujung Pandang di Palopo. Pada saat yang sama, Pemerintah Daerah mengkomunikasikan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Adalah Trio Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; mereka adalah St. Ziarah Makkajareng, Andi Rasdiyanah, dan Marliyah Ahsan yang berperan secara struktural dan akademik dalam pendirian dan operasional fakultas cabang IAIN Alauddin di Palopo.

Sitti Ziarah Makkajareng, kala itu sebagai satu-satunya putri daerah tana Luwu yang pertama meraih predikat sarjana dengan gelar akademik Doktoranda (Dra), menyadari bahwa keberadaan perguruan tinggi di tana Luwu merupakan keniscayaan bagi perkembangan daerah, khususnya pendidikan bagi generasi muda Islam yang kelak diharapkan mengemban estafet kepemimpinan dan pembangunan.

Kehadiran perguruan tinggi tersebut nantinya diharapkan akan memudahkan akses pendidikan tinggi bagi warga tana luwu sehingga tanpa ke luar daerah pun mereka bisa menikmati kehadiran perguruan tinggi.

Untuk mewujudkan “mimpi” tersebut, Sitti Ziarah melakukan kunjungan silaturahim kepada pemerintah, yang ditindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan formal dan informal dengan segenap tokoh masyarakat dan pemuka agama Islam. Dalam salah satu pertemuan yang dihadiri unsur-unsur organisasi kemasyarakat Islam yang sudah ada pada masa itu, antara lain Nahdlatul Ulama (diwakili oleh H. Daeng Mappile), Muhammadiyah (diwakili H. M. Nawawi), dan PSII (yang diwakili oleh H. M. Rasyad). Dari unsur generasi muda hadir; Muhammad Hasyim dan Ramli Pame.

Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan pentingnya segera menghadirkan satu perguruan tinggi di tana Luwu, yang sekaligus mengamanahkan kepada Sitti Ziarah Makkajareng untuk menjalin komunikasi yang intensif dengan IAIN Alauddin di Ujung Pandang.

Dengan dukungan dari tokoh-tokoh organisasi sosial keagamaan tersebut, maka Sitti Ziarah menghadap Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bupati Luwu yang saat itu dijabat oleh Drs. H. Salman. Pertemuan tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya, yang dihadiri selain oleh Bupati Luwu juga dihadiri oleh H. M. Rasyad. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk segera mengirim surat kepada Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang yang berisi kesiapan pembukaan kelas filial di Palopo.

Surat permohonan Pemerintah Kabupaten Luwu tersebut direspon positif oleh pimpinan IAIN Alauddin dengan menyetujui pembukaan fakultas filial di Palopo, dengan pertimbangan bahwa:

  1. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Luwu berupa kesanggupan penyediaan gedung sebagai tempat perkuliahan dengan meubelairnya, berikut serta dukungan dana operasional.
  2. Di tana Luwu sudah ada beberapa sarjana dari perguruan tinggi agama, sehingga kebutuhan pengelola sekaligus tenaga pengajar sudah ada tersedia.

Melalui permohonan Pemerintah Kabupaten dan dukungan DPRD tersebut, maka pada tanggal 27 Maret 1968 M., bertepatan dengan 24 Zulhijjah 1387 H., bertempat di Istana Kedatuan Luwu diresmikanlah pembukaan kelas filial Palopo dari Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang. Dalam piagam pendirian tersebut, tercantum nama-nama sebagai penandatangan, yaitu:

  1. Drs. H. Muhyiddin Zain, selaku pejabat Rektor IAIN Alauddin;
  2. Mayor Andi Hasanuddin Oddang, Komandan Kodim 1403 Sawerigading dan Ketua Muspida Luwu, selaku saksi;
  3. H. Muhammad Rasyad, Ketua DPRD GR Kabupaten Luwu, selaku saksi;
  4. Drs. H. M. Salman, Bupati Luwu, selaku saksi.

Sebagai kelas filial dari Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang, maka jabatan Dekan secara ex officio dipegang oleh Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang, yang saat itu dijabat oleh K.H. Ali Yafie, dan Dra. Siti Ziarah sebagai Sekretaris Fakultas.

Pada penerimaan mahasiswa angkatan pertama, tercatat lebih dari 150-an orang mahasiswa, di antaranya: Muhammad Hasyim, Zainuddin Samide, Nasir Tangka, Dahrir Nur, Abdul Rahman Sirun, Abdul Latif P, Syamsuddin Kunna, Ramli Pame, Baeduri, M. Amir Djafar, Annas Siodja, Nurdin Manda, Mustafa, Mas’ud Ribi, Masding, Pallettuang, Andi Parasi, Abdul Khalik Larukka, Said Mahmud, Mansyuriyah Rasyad, Abdul Hafid, Sitti Ana, Sitti Arifah Hasyim, Andi Sari Nawir, Sitti Badeyang, Sitti Hawang dan lain-lain.

Untuk tahap pertama, perkuliahan dilaksanakan di Gedung Nasional di jalan Sultan Hasanuddin Palopo, yang sebelumnya berfungsi sebagai gedung serbaguna.

Seiring perubahan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi, maka dalam waktu kurang dari setahun, status filial “naik kelas” menjadi fakultas “cabang,” melalui Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 168 Tahun 1968. Dengan demikian Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin cabang Palopo berhak mengelola program jenjang sarjana muda, dengan gelar akademik BA (Bachelor of Arts).

Status sebagai Fakultas Cabang mengharuskan jabatan Dekan tidak lagi dijabat secara ex officio oleh Dekan Fakultas Ushuluddin di Ujung Pandang, melainkan dijabat oleh pejabat dekan tersendiri. Sebagai dekan diangkatlah K. H. Muhammad Rasyad sebagai Dekan pertama.

Di tahun 1970 Pimpinan IAIN Alauddin di Ujung Pandang melengkapi struktur organisasi sebagai upaya akselerasi pencapaian tujuan organisasi, dengan mengangkat pejabat Pembantu Dekan. Pada tahun 1970 itu juga Fakutas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang kelas filial Palopo mendapat tambahan sumber daya manusia, yaitu dengan penugasan H. M. Iskandar, BA., salah seorang putra daerah Tana Luwu sebagai dosen dari IAIN Alauddin Ujung Pandang ke Fakultas cabang di Palopo. H. M. Iskandar kemudian diangkat sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan.

Dengan ketersediaan sumber daya manusia tersebut, maka ditetapkanlah pejabat Pembantu-pembantu Dekan, yaitu:

  1. Dra. Sitti Ziarah menjabat Pembantu Dekan Bidang Akademik;
  2. Muhammad Hasyim, BA., sebagai Pembantu Dekan Bidang Administrasi;
  3. Muhammad Iskandar, BA., sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan.
    Dalam perkembangan selanjutnya, melalui Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor 65 Tahun 1982, Fakultas Ushuluddin di Palopo, berubah status dari Fakultas Cabang menjadi Fakultas Madya dengan sebutan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo. Hal ini memberi kewenangan untuk mengelola pendidikan tinggi hingga jenjang sarjana lengkap.

Pada tanggal 12 November 1983 Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang menerbitkan Surat Keputusan Nomor 43 Tahun 1983 tentang pembukaan jenjang program sarjana lengkap pada Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo.

Peresmian Fakultas Ushuluddin di Palopo sebagai penyelenggara jenjang program sarjana lengkap dilakukan oleh H. A. Moerad Usman selaku Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang, yang disaksikan oleh Bupati Luwu, H. Ambara Mubara Dappi, Ketua DPRD Kabupaten Luwu, Abd. Hamid, Dra. Sitti Ziarah Makkajareng selaku Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo, serta segenap dosen, mahasiswa, dan undangan.

Seiring berjalannya waktu, aktifitas kuliah dan layanan akademik yang sejak awal pendiriannya menempati Gedung Nasional milik Pemda Luwu di jalan Sultan Hasanuddin dirasakan sudah tidak mampu menampung layanan administrasi akademik, maka dibukalah kampus baru, yang menempati lahan seluas lebih kurang 2 (dua) Ha, yang terletak di wilayah Balandai, sekitar 4 kilometer sebelah Utara Pusat Kota Palopo.

Peresmian kampus yang saat itu terdiri atas 3 (tiga) unit bangunan, masing-masing difungsikan sebagai pusat layanan administrasi, perpustakaan, dan ruang belajar, dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Moenawir Sjadzali pada tanggal 4 Juni 1983. Sejak peresmian itu, seluruh aktivitas institusi berlangsung di kampus baru tersebut.

Status sebagai fakultas madya, menjadikan posisi fakultas Ushuluddin di Palopo cukup dilematis; namun dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1985 tanggal 4 Juli 1985 tentang Pokok-pokok organisasi Institut Agama Islam Negeri yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1987 tanggal 22 April 1987 tentang Susunan Organisasi Insitut Agama Islam Negeri, serta Keputusan Menteri Agama RI Nomor 18 Tahun 1988 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja IAIN Alauddin, maka Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin akhirnya mempunyai kedudukan hukum sama dengan fakultas-fakultas negeri lainnya di seluruh Indonesia, yang saat itu membina dua jurusan, yaitu Jurusan Dakwah dan jurusan Aqidah filsafat, dan pada tahun akademik 1990/1991, bertambah satu jurusan yaitu jurusan Tafsir Hadis.

Transformasi kelembagaan terus berlanjut, hingga pada Tahun Akademik 1997/1998, melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997, Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). mengiringi Keppres 11 Tahun 1997 tersebut, diterbitkan pula Peraturan Menteri Agama RI Nomor 302 Tahun 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja STAIN Palopo, yang antara lain menetapkan jurusan-jurusan binaan STAIN Palopo, yaitu Jurusan Ushuluddin, Jurusan Tarbiyah, dan Jurusan Syariah.

Pengembangan kapasitas kelembagaan melalui pembukaan dan pembinaan program-program studi tersebut tidak sekaligus, melainkan bertahap, sebagai berikut:

Jurusan Ushuluddin membawahi empat program studi, yaitu 1) Tafsir Hadis; 2) Aqidah Filsafat; 3) Ilmu Dakwah; 4) Perbandingan Agama. Jurusan Tarbiyah membawahi program studi Pendidikan Agama Islam, dan Jurusan Syariah, membawahi Program Studi Muamalah.

Tahun Akademik 2002/2003 dibuka Program Diploma 2 Pendidikan Guru Agama Islam, disusul tahun berikutnya, 2003/2004 dibuka Program Diploma 3 Pendidikan Guru Bahasa Inggris. Pada tahun akademik 2005/2006, Program Diploma 3 Pendidikan Guru Bahasa Inggris dinaikkan statusnya menjadi Program Studi jenjang sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Pada Tahun Akademik 2007/2008, dibuka jurusan Pendidikan (Tadris) Matematika. Pada tahun 2010/2011, dibuka program studi Ekonomi Islam.

Pada tahun 2012 STAIN Palopo membuka Program Pascasarjana jenjang magister, dengan program studi Pendidikan Agama Islam. Pada tahun 2014 Program studi jenjang magister bertambah dengan dibukanya program studi Manajemen Pendidikan Islam dan Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah).

Dengan demikian, sebelum transformasi status kelembagaan menjadi Institut, STAIN Palopo sudah memiliki program-program studi jenjang sarjana dan jenjang magister. Jenjang sarjana meliputi:

  1. Program Studi Ilmu Dakwah
  2. Program Studi Tafsir Hadis
  3. Program Studi Pendidikan Agama Islam
  4. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris;
  5. Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
  6. Program studi Hukum Keluarga Islam
  7. Program Studi Ekonomi Islam
  8. Program Studi Pendidikan Matematika
    Sedangkan program studi jenjang magister mencakup:
  9. Program studi Pendidikan Agama Islam;
  10. Program studi Manajemen Pendidikan Islam
  11. Program studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah)

STAIN Palopo yang terus berbenah, akhirnya kembali beralih status dari STAIN Palopo menjadi Institut Agama Islam Negeri Palopo melalui Peraturan Presiden no. 141 Tahun 2014. Alih status ini memungkinkan IAIN Palopo membuka Fakultas dengan mentransformasi jurusan menjadi fakultas, yaitu Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Seiring peningkatan kapasitas kelembagaan, Pimpinan IAIN Palopo melakukan pembenahan pada semua aspek yang menjadi komponen penilaian dalam sistem akreditasi perguruan tinggi, sehingga pada tahun 2018 akreditasi IAIN Palopo kemudian meningkat menjadi predikat B.

Sejak berdirinya sebagai fakultas filial hingga bermetamorfosis dengan beberapa status kelembagaan hingga sekarang, institusi pendidikan tinggi ini telah dipimpin oleh tokoh-tokoh sebagai berikut:

  1. Era Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang Filial Palopo
    K. H. Ali Yafie (1968-1969)
  2. Era Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Cabang Palopo
    K. H. Muhammad Rasyad (1969-1973)
    Dra. Hj. St. Ziarah Makkajareng (1973-1982)
  3. Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palopo;
    Dra. Hj. St. Ziarah Makkajareng (1982-1988)
    Prof. Dr. H. M. Iskandar (1988-1996)
    Dr. H. Syarifuddin Daud, MA (1996-1997)
  4. Era Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palopo
    Drs. H. Syarifuddin Daud, MA (1997-2006)
    Prof. Dr. H. M. Said Mahmud, Lc, MA (2006-2010)
    Prof. Dr. H. Nihaya M., M.Hum (2010-2014)
    Dr. Abdul Pirol, M.Ag (2014-2015)
  5. Era Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo
    Prof. Dr. Abdul Pirol, M.Ag (2015-2023)
    Dr. Abbas Langaji, M.Ag (2023- sekarang)

Dari rangkaian sejarah panjang tersebut tampak bahwa IAIN Palopo merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi yang dinamis, mengalami tranformasi status kelembagaan menyesuaikan dengan regulasi yang berkembang.

Sejarah IAIN Palopo dari masa ke masa ini dibacakan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Munir Yusuf, M.Pd. dalam acara sidang senat terbuka milad 56 IAIN Palopo di Auditorium Phinisi, Selasa, 02 April 2024 M / 22 Ramadan 1445 H. (Humas)

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *