05
May
2021

#KarebaHumas – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo, melalui Rumah Moderasi Beragama menggelar webinar Penguatan Moderasi Beragama, hadirkan Menteri Agama RI Periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin (LHS) dan Kepala Seksi Pengembangan Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam, H. Amirulla, S.Ag., M.Ag, Selasa, 4 Mei 2021

Acara tersebut dengan tema “Tana Luwu Garda Terdepan dalam Merawat Dinamika Beragama dan Berbangsa”, melalui zoom meeting dan live streaming youtube Humas IAIN Palopo. Partisipasi secara offline dan virtual para pimpinan IAIN Palopo, dosen, Tendik, Mahasiswa, tokoh-tokoh agama dan ormas-ormas Tana Luwu.

Rektor IAIN Palopo, Prof. Dr. Abdul Pirol, dalam sambutannya sekaligus membuka webinar, menyampaikan rasa bahagian dan ucapan terima kasih atas berkenan kedua narasumber dan para peserta. “selamat datang di kampus IAIN Palopo meskipun secara Virtual” sambutnya.

Rektor menyampaikan beberapa dasar nilai utama Tana Luwu yang merupakan nilai sosial budaya Tana Luwu yang relevan dalam upaya menguatkan moderasi beragama, “Moderasi beragama sangat penting bagi Tana Luwu yang merupakan wujud Indonesia mini,  karena keragaman, suku, budaya dan agama”. ucap Rektor.

Untuk itu, kata dia, IAIN Palopo bertekat menjadi garda depan dalam mewujudkan moderasi beragma agar terciptanya harmonisasi sosial khususnya di kawasan Tana Luwu, dengan demikian IAIN Palopo dapat memberi sumbangsi dalam menjaga NKRI.

Sementara itu, Lukman Hakim Saifuddin, selaku narasumber pertama memaparkan meterinya “Moderasi Beragama sebagai Ikhtiar Merawat Dinamika Beragama dan Berbangsa”. Dirinya mengaku sangat mengapresiasi dan bersyukur atas undangan IAIN Palopo dalam kajian moderasi beragama ini, yang tidak hanya melibatkan sivitas akademika IAIN Palopo namun juga menghadirkan tokoh-tokoh agama Tana Luwu dan ormas-ormas lainnya.

Lukman Hakim menerangkan dalam konteks kekinian moderasi beragama makin diperlukan bagi bangsa ini, yang tidak hanya semata menjaga bagaimana cara keagamaan kita tapi bagaimana lebih dari itu, yakni tetap menjaga NKRI.

Menurutnya, ada dua ciri yang menonjol di Indonesia ini, sebagai sebuah bangsa yang amat besar, ciri pertama, Kemajemukannya, keberagaman atau heterogenitas. Dari keberagaman tersebut kata dia, jika ada yang ingin menyeragamkan Indonesia, itu pada hakekatnya mengingkari takdir Tuhan, karena keragaman hakekatnya sunnatullah.

“Ciri yang kedua yang sangat menonjol, keberagamaanya, kita dikenal di dunia sebagai Negara yang agamis, kita tidak menemukan semua masyarakat Indonesia dalam kesehariannya yang tidak terkait pada nilai-nilai agama, baik dalam menjalankan aktivitas dalam bernegara, pemerintahan dan bermasyarakat, semuainya terkait pada nilai agama, agama tidak hanya menjadi pijakan dasar, tapi sekaligus langkah orientasi dimana kita menuju.” ungka LHS..

Lukman Hakim menegaskan, moderasi beragama itu bukanlah hal yang baru, melainkan sesuatu yang menjadi warisan para pendahulu yang berupaya dikontekstualisasi dengan kenyataan zaman hari ini.

Moderasi beragama, bukanlah proses yang berkesudahan, karena untuk senantiasa menjadi moderat yang berprinsipkan keadilan dan keseimbangan, kita harus mengetahui kutub-kutub ekstrim itu dimana dan bagaimana.

“Jadi moderasi beragama itu dinamis, tidak statis dan bukan sesuatu yang given, Tetapi persoalannya adalah bagaimana cara kita memahami agama, cara mengamalkan agama. Jadi keberagaman dimoderasi”. tandas putra Saifuddin Zuhri mantan Menteri Agama Era Presiden Sukarno itu. (Humas)

Leave a Reply

Works with AZEXO page builder