24
Feb
2021

Humas- Pada pembukaan kuliah semester genap tahun akademik 2020/2021 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo yang digelar secara virtual. IAIN Palopo mengundang Guru Filologi Fakultas Budaya Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahman, M.S, untuk menyampaikan orasi ilmiah.

Orasi ilmiah atau kuliah umum kali ini bertajuk “Menguatkan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Tana Luwu Bagi Sivitas Akademika IAIN Palopo”, acara berpusat di Aula Rektorat lantai III, dengan Prokes ketat hanya dihadiri beberapa pejabat kampus, Rektor, Para Wakil, Dekan, para Ketua Lembaga dan sejumlah tenaga pendidik/panitia, Rabu, 24 Februari 2021.

Sebelum Prof. Nurhayati, menyampaikan orasi ilmiahnya yang membahas dinamika budaya yang ada di Indonesia, Rektor IAIN Palopo, Prof. Dr. Abdul Pirol, membuka acara secara resmi. Dirinya menyampaikan puji syukur atas kesempatan pembukaan kuliah semester genap tahun akademik 2020/2021 meskipun pembukaaanya secara virtual.

Ini disebabkan pandemi yang belum berakhir. Rektor menghimbau dari Kemenag RI untuk selalu waspada dan menerapkan protokol kesehatan dengan 5M. Meskipun penyelenggaraannya tidak secara offline, sebagai sivitas akademika harus tetap berupaya mewujudkan pembelajaran dan pengajaran secara maksimal.

“Untuk mendukung aktivitas akademik tersebut, dibutuhkan upaya ekstra, khususnya peran mahasiswa berinisiatif dalam kemandirian belajar dan meluangkan waktu untuk membaca.” ucap Rektor.

Dilanjutnya, tema kuliah umum pada kesempatan ini, penting bagi IAIN Palopo, karena terkandung visi IAIN palopo, Terkemuka dalam Integrasi Keilmuan Berciri Kearivan Lokal. “Menjadi penting karena kearifan lokal mewarisi keseharian kita, hal ini juga merupakan warisan para leluhur, untuk itu menjadi amanah bersama dalam melestarkan nilai-nilai kearifan lokal khususnya di Tana Luwu.” imbuh Rektor.

Orasi Ilmiah oleh Guru Besar Filologi Fakultas Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahman, memaparkan dinamika atau problematika budaya di Indonesia saat ini, “ditinjau dari budaya generasi pelanjut saat ini, adalah merasa bangga apa yang diambil dari luar, tapi tidak merasa bangga apa yang kita miliki” kata dia.

Menurutnya hal tersebut bisa dilihat pada indikatornya, dimana sudah jarang sekali diaplikasikan bahasa ibu/daerah, bahasa-bahasa daerah hampir tidak terdengar lagi, jika diucapkan merasa malu, takut dikatakan orang kampungan.

Dalam bahasa daerah itu ada nilai-nilai tersendiri dan menjadi sebuah pagar bagi generasi orang tua dulu, tapi saat ini mulai memudar. Diprediksikannya, 10-20 tahun ke depan mungkin akan hilang bahasa dari budaya masing-masing.

Padahal menurut Prof. Nurhayati, bahasa-bahasa daerah itu sangat penting, di dalamnya terkandung nilai-nilai kerafian, “ada beberapa bahasa daerah yang tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia karena tidak sejajar dalam pemaknaanya, contohnya bahasa TABE’ ini tidak bisa diartikan begitu saja dengan kata permisi. Bahasa TABE’ itu di dalamnya ada ahlak kesantunan. serta banyak lagi bahasa-bahasa daerah yang tidak bisa disejajarakan maknanya dalam bahasa Indonesia.” ucap Prof. Nurhayati.

Dilihat budaya Samurai Jepang, meskipun anak-anak atau orang tua Jepang sudah memakai dasi tapi nilai dalam Samurai terus bertransfer, tetap diterapkan dalam dunia politik mereka, dunia bisnis, dan perdagangan. Sehingga orang-orang Jepang itu terkenal jujur dan konsisten.

“Sebagai orang Luwu, kita memiliki kebanggaan I La Galigo, tokoh-tokohnya banyak dari Tana Luwu. Apa yang diambil dari I La Galigo bukan bentuknya tapi nilainya. Oleh karena itu kita harus bangga menjadi orang Bugis, Luwu, Padoe dan orang Toraja. Marilah kita kembali pada rumah masing-masing.” Imbuh Guru Besar Unhas itu.

Antusiasme para partisipan mengajukan pertanyaan. Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan pengunjung perpustakaan terbaik semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 oleh Kepala Perpustakaan. (humas)