17
Jul
2020



Humas- Becana yang menimpa Masamba dan sekitarnya sejak, Senin 13 Juli 2020 malam telah menggerakan berbagai pihak untuk bahu membahu, baik berupa donasi hingga sukarelawan

Tanpa terkecuali para alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan koordinasi oleh ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FEBI, Ikhsan Purnama S.Sy, MM, yang telah mendirikan posko distribusi bantuan korban bencana banjir lumpur.

Bantuan yang mereka kumpulkan bersumber dari dana pribadi para alumni, dosen FEBI dan bantuan dari para donator, dengan sukarela untuk meringankan duka korban banjir

Semangat kemanusiaan dari para alumni ini merupakan wujud nyata keberhasilan IAIN Palopo dalam menanamkan sifat saling membantu atau “Sipakatau” sehingga tidak saja terampil di bidangnya saja namun menjadi warga masyarakat yang berguna bagi masyarakat disekitarnya.

Berdasarkan pantauan, mereka sangat peduli hingga Kamis, 16 juli 2020 kemarin pasca bencana mereka menyisir daerah-daerah terpencil yang sulit dijagkau.

Dekan FEBI, Dr. Hj. Ramlah M, MM, menyampaikan terima kasih pada para alumni dan para relawan mahasiswa FEBI yang suka rela mengorbankan waktu, tenaga dan biaya serta pikirannya untuk membantu masyarakat korban bencana banjir Masamba, Luwu Utara, “Ini merupakan wujud nyata pengabdian alumni dan mahasiswa kepada masyarakat” singkat Dekan dua periode itu. (tkdr/jn)



17
Jul
2020



Humas- Setelah melakukan evakuasi dan pendistribuasian logistik selama tiga hari pasca bencana Lumpur Masamba dan sekitarnya, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) IAIN Palopo melakukan pemetaan. Kamis, 16 Juli 2020.

Pemetaan tersebut berdasarkan petunjuk Rektor IAIN Palopo, Dr. Abdul Pirol yang dikoordinir Pembina Mapala IAIN Palopo, Amrul Aysar Ahsan, itu menjadi sumber informasi relawan lainnya. Dimana hasil pemetaanya dishare ribuan kali di media, baik di Whatsapp group, Instagram, Facebook dan lainnya.

Amrul, mengatakan bahwa berdasarkan pemetaan Mapala

IAIN Palopo di lokasi bencana dan pengalaman Mapala, maka siklus penanganan bencana akan menghadapi realitas tantangan beberapa hari kedepan:

  1. Lumpur yang sudah mulai mongering bila hujan tidak turun akan mendatangkan debu. Maka tantangan berikutnya selain logistik pangan, adalah ISPA (saluran infeksi pernafasan). Olehya itu, orientasi bantuan yang diberikan dapat berupa masker yang banyak.
  2. Lumpur basah jika hujan turun akan mendatangkan banyak penyakit seperti kolera, berasal dari lumpur basah bercampur dengan fases manusia, urine manusia, (Sanitasi yang buruk) dan mayat yg membusuk yg belum sempat dievakuasi.
  3. Sabun dan cairan disinfektan tuk basuh tangan dan kaki sepulang dari kegiatan mngantar bantuan dan evakuasi.

“Beberap titik, kami sudah mencium bau yang sangat busuk. pengadaan bantuan yang sangat berguna adalah sepatu boot dan sarung tangan karet” ucap Muhajir Ketua Mapala IAIN Palopo

Ia merekomendasikan, pengantaran bantuan langsung ke pengungsi sebaiknya dikurangi karena wabah penyakit seperti yg dikemukakan diatas, cukup drop di posko.

“Jika mengantar langsung, baiknya dilengkapi diri dengan masker dan sepatu boot.” tutup Muhajir.

Ada pun posko Mapala IAIN Palopo terletak di Sabbang, yang juga menjadi posko distribusi bantuan logistik dan pakaian sejak hari pertama pasca bencana. (jn)