12
Jun
2020

Humas–Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo saat ini tengah menerima mahasiswa baru melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) yang telah dibuka sejak 1 Mei hingga 30 Juni 2020.

Rektor IAIN Palopo, Dr. Abdul Pirol, M.Ag, Kamis 9 Juni 2020 kemarin menyebutkan untuk penerimaan MABA pihaknya membuka tiga jalur, yakni melalui jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan islam Negeri (SPAN-PTKIN). Kemudian ada juga Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) serta jalur mandiri.

“Tahun ini, kami menyediakan sekitar 2.000-an kursi dari tiga jalur yang disediakan,” sebutnya.

Untuk jalur SPAN kata dia, telah dilaksanakan April lalu dimana menerima mahasiswa berprestasi sebanyak 347 orang. Sementara jalur UM-PTKIN saat ini tengah berlangsung sejak 1 Mei yang rencananya akan ditutup 30 Juni 2020 mendatang. Jalur UM-PTKIN sendiri, menyediakan kuota sebanyak 1920 kursi.

“Sementara untuk jalur mandiri nantinya untuk memenuhi kursi yang kosong dari jalur penerimaan SPAN dan UM-PTKIN, rencananya dibuka akhir Juni mendatang,” ungkapnya.

Dijelaskan Pirol, secara kelembagaan IAIN Palopo merupakan transformasi atau alih status dari STAIN Palopo yang pada awal pendiriannya merupakan fakultas cabang dari IAIN Alauddin Makassar (sekarang UIN Alauddin). IAIN Palopo bertransformasi menjadi institut dari sekolah tinggi yang digelar tahun 2014 lalu. Hal tersebut berdasarkan Perpres nomor 141 tahun 2014. “Bahkan saat ini kita juga telah memasukkan proposal perubahan status dari Institut menjadi universitas pada akhir desember 2019,” terangnya.

IAIN Palopo sendiri, kata dia, memiliki visi “Terkemuka dalam integrasi keilmuan berciri kearifan lokal”. Dalam visi ini terkandung harapan yang sangat relevan dengan jati diri sebagai manusia Indonesia. Kenyataannya, orang Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Sehingga orang Indonesia seharusnya dapat mengintegrasikan elemen-elemen tersebut menjadi jati diri khas Indonesia sekarang ini.

Dengan begitu, seharusnya orang Indonesia sangat sadar bahwa kesukuan, agama yang dianut, dan profesinya menyatu menjadi jati dirinya. Jelasnya, terintegrasi keislaman, keilmuan atau peradaban, dan keindonesiaan dalam satu nafas yang harmoni sebagai jati diri manusia Indonesia.

Untuk peningkatan akademik kampus, pihaknya melakukan berbagai inovasi dengan sejumlah program, seperti mengintegrasikan kepesantrenan dalam tradisi akademik kampus. Dimana Para mahasiswa melalui Ma’had al-Jami’ah atau Pesantren Kampus yang memperoleh pelajaran kepesantrenan, seperti penguatan Metode Baca Tulis al-Quran dan Bahasa Arab serta ilmu-ilmu keislaman dasar lainnya.

“Bagi para mahasiswa yang ingin mendapatkan pengalaman luar negeri, terdapat program KKN internasional. Tentunya bekerjasama dengan beberapa lembaga baik dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.

Selain itu lanjut Pirol, untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas dosen, jumlah dosen ditingkatkan melalui penerimaan dosen tetap PNS dan Bukan PNS. Untuk peningkatan kualitas, pihaknya memberi kesempatan kepada para tenaga pengajar, untuk kegiatan penelitian serta presentasi dan publikasi ilmiah nasional-internasional. Mereka ini didorong untuk studi lanjut S3 dalam dan luar negeri.

“Alhamdulillah, saat ini sekitar enam orang dosen kita lanjut studi S3 di luar negeri, seperti Inggris, Canada, New Zealand dan Australia,” tukasnya.(ich)

Leave a Reply

Works with AZEXO page builder