20
Dec
2019

Dr. Muhaemin MA
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama
(Opini)

Ajaran Islam memberikan perhatian yang besar terhadap budaya literasi yaitu budaya membaca, menulis, menghitung, memecahkan masalah dan merespon informasi. Al-Qur’an telah mengetengahkan pentingnya literasi sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. al-‘Alaq [96]: 1-5:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Perintah Iqra’ harus dimaknai secara mendalam bahwa kita diperintahkan membaca, meneliti, mengkaji, menghitung dan menulis. Al-Qur’an juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran) dan shuhuf (helai kertas). Kesimpulannnya, itu semua menandakan bahwa al-Qur’an ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan dalam masyarakat.

Menurut ulama tafsir, kata iqra’ pada ayat  tersebut bermakna luas, perintah membaca bukan hanya bagi Nabi Muhammad Saw tetapi seluruh individu, kelompok dan masyarakat. Ayat  ini memiliki pesan bahwa iqra’ adalah salahsatu pintu untuk meraih ilmu pengetahuan, pengalaman dan informasi. Dengan bekal iman dan ilmu maka manusia akan menuju derajat taqwa.

Perintah membaca dan menulis bukan hanya terdapat dapat surah al-Alaq. Pada sejumlah ayat lain terdapat kalimat yang mendorong manusia untuk selalu berpikir. Seperti ungkapan, afala ta’qilun (apakah kalian tidak berpikir), afala tatafakkarun? (apakah kalian tidak berpikir), afala tatadabbarun? (apakah kalian tidak mengambil hikmah), serta beberapa ungkapan lain yang mirip dengan makna ayat-ayat tersebut.
  1. Literasi al-Qur’an
    Spirit literasi sebagai pondasi menuju taqwa adalah literasi al-Qur’an. Seorang ulama pernah menggugah kesadaran jamaah dengan mengajak umat Islam agar lebih banyak membaca kalamullah selain kalamunnas. Hal ini dapat dipahami karena membaca al-Qur’an selain memberikan pahala juga dapat menambah pengetahuan dan ketenangan pikiran dan jiwa. Allah SWT berfirman yang artinya
    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30). Rasulullah saw dalam berbagai hadis memberikan motivasi dalam literasi al-Qur’an. Sebagaimana contoh dalam hadis yang artinya :
    “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim). Literasi al-Qur’an harus dimulai dari keluarga. Pembiasaan membaca al-Quran sejak dini menjadi kegiatan penting yang harus menjadi perhatian para orangtua. Literasi al-Qur’an juga harus dibiasakan di lingkungan Pendidikan.
  2. Literasi hadis
    Selain literasi al-Qur’an, maka diharapkan kaum Muslimin mengajak putra-putrinya untuk banyak membaca hadis-hadis Nabi. Selain itu perlu memperkenalkan kitab-kitab hadis seperti sahih Bukhari, Sahih Muslim, sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan at-Tirmidzi, sunan an-Nasa’i, maupun kitab-kitab hadis lainnya.
    Dengan kemajuan teknologi saat ini, maka akses informasi terhadap kitab hadis ini juga dapat diakses secara online. Diharapkan dengan dengan membaca hadis akan mempertebal rasa keimanan, menambah wawasan keislaman akhirnya lahirnya pengamalan ajaran Islam yang berbasis ilmu. Tentu saja agar hasil yang dicapai lebih maksimal, maka pada saat membaca kitab hadis perlu didampingi guru, pembimbing atau orangtua.
  3. Meraih taqwa dengan tradisi Literasi
    Membudayakan literasi bukanlah perkara mudah di era modern saat ini. Banyak godaan yang muncul seiring dengan semakin canggihnya aplikasi atau program yang tersedia dalam HP/Ponsel. Namun orang yang bertaqwa akan mampu mengatur waktu dengan baik sehingga kebiasaan membaca terus terjaga. Ada yang membuat program membaca setiap selesai shalat fardhu, ada yang membuat program dengan membaca sebelum tidur dan adajuga yang membuat program ODOJ one day one juz ( satu hari satu juz).
    Masyarakat Muslim yang memiliki tradisi literasi yang kuat pada akhirnya akan memiliki spirit ibadah dan spirit bekerja yang lebih baik ketimbang mereka yang malas membaca. Orang yang memiliki kebiasaan membaca biasanya akan lebih arif dan dewasa serta mampu menahan diri dalam berbagai situasi. Hal ini merupakan sikap orang yang bertaqwa.
    Para Sahabat dan alim ulama memberikan uswah hasanah dalam budaya literasi. Mereka banyak membaca dan melahirkan Karya karya yang dapat dibaca hingga hari ini.
    Mari kita membiasakan diri kita untuk banyak membaca al-Qur’an, hadis dan ilmu lainnya sehingga kita mampu menjadi insan muttaqin. Semoga Allah SWT meridhai kita semua. Aamiin.

Leave a Reply

Works with AZEXO page builder