26
Nov
2019

Humas- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Palopo menggelar Internasional Short Course, “Celebrates the Moderation Understanding Tana Luwu Sharia Ekonomic and Local Culture” yang bertempat di Aula Fakultas FEBI IAIN Palopo, Selasa (26/11/2019)

Forum yang melibatkan praktisi, Dra Nasmilah, Dip TESL MHum PhD dan peserta dari dua negara yakni Sudan dan Bagladesh. Acara dimulai dengan tarian Ana’ Dara oleh mahasiswa Prodi Bahasa Inggris.

Rektor  IAIN Palopo, Dr. Abdul Pirol, membuka acara secara resmi menyampaikan apresiasi pada FEBI atas terselenggaranya acara tersebut. Rektor mengatakan bahwa IAIN Palopo saat ini sedang berusaha menuju universitas.

Karenanya, internasionalisasi kampus hendaknya terus dilakukan dengan potensi kemampuan bahasa asing yang dimiliki. Menurutnya, ini mudah diwujudkan dengan melihat beberapa potensi lulusan yang melanjutkan studi di luar negeri serta dosen-dosen IAIN Palopo yang banyak berkualifikasi luar negeri.

“IAIN Palopo tentunya terus berusaha menuju kampus internasionalisasi dengan integrasi keilmuan yang tetap merekatkan kerifan lokal.” hemat Rektor.

Ada pun narasumber, Dra Nasmilah, Dip TESL MHum PhD. Mengungkapkan bahwa saat banyak universitas luar negeri maupun dalam negeri berusaha menarik mahasiswa asing, itu dilakukan dengan cara mendapatkan beasiswa.

“Kunci mendapatkan beasiswa itu ialah menguasai bahasa asing, syarat utamanya harus menguasai bahasa asing karena itu menjadi akses kita” ucap peraih beasiswa doktor di Australia itu.

Dikatakanyya, saat ini kampus terus menuju internasionalisasi. Dengan meraih itu universitas harus mempunyai 4 pilar, yaitu kualitas pengajar yang baik, research quality, alumni yang terpakai dan kerja sama antar universitas maupun lembaga lain.

 “Universitas yang berkarakter internasional harus mempunyai input, proses dan autput. Input bagaimana mendapatkan dan mempertahankan staff yang terbaik, merekrut staff/mahasiswa dari pasar internasional atau mendapatkan banyak mahasiswa dari luar negeri.” tambahnya.

Proses, ialah memiliki standarisasi PBM yang diakreditasi nasional/internasional, membentuk kelompok-kelompok riset yang fokus, mendorong dan memfasilitasi keterlibatan mahasiswa maupun membentuk badan pendayagunaan potensi.

Sementara autputnya, bagaimana perguruan tinggi harus mendapatkan akreditasi yang terbaik dengan tingkat lulusan yang tinggi dan banyak bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain. (Humas/jn)

Leave a Reply

Works with AZEXO page builder