Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Perspektif atas dimensi relasi manusia setidaknya dapat dibedakan ke dalam empat bentuk: hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta. Hubungan dengan diri sendiri menegaskan adanya tanggungjawab atau kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri. Misalnya, kewajiban memelihara diri dengan memenuhi kebutuhannya dan menghindari hal yang dapat merusaknya. Hablumminannas berarti hubungan dengan sesama manusia meliputi hubungan dengan kedua orangtua, karib kerabat, tetangga, dan teman atau sahabat. Juga termasuk hubungan guru dan murid, atasan dan bawahan, dan antara pemimpin dan yang dipimpin. Untuk semua hubungan ini menekankan pentingnya etika atau akhlaq yang baik. Kepada kedua orangtua: ayah dan ibu, seorang anak hendaknya memuliakan dan berbakti serta tidak menyakiti hatinya meskipun itu hanya sekadar mengatakan "ah". Untuk selanjutnya kita hendaknya mengamalkan etika bertetangga, berteman, dan etika pemimpin dan yang dipimpin. Dan, tentunya etika untuk semua bentuk hubungan dengan sesama manusia. (ODPT-II, 18 Nopember 2016).

Menjadi bijak bukanlah perkara mudah yang semua orang mampu mencapainya. Boleh jadi ada yang memerolehnya sebagai anugerah dan lainnya karena upaya yang sungguh-sungguh. Tidak mudah memang, sekali lagi, ingin saya sampaikan. Karena kebijaksanaan tidak identik dengan kepintaran atau sederet gelar akademik. Pengalaman hidup menunjukkan ada yang mencapai kebijaksanaan meskipun tanpa memiliki pendidikan formal yang berarti. Boleh jadi, seseorang yang terpandang dari berbagai segi misalnya, tetapi belum tentu ia sanggup menjadi bijaksana. Beruntunglah kehidupan masyarakat yang memiliki orang yang bijaksana. Karena mereka yang bijaksana selalu berupaya dan mampu memberi solusi. Sayangnya, sementara kita ada yang lebih tampak senang dengan kegaduhan dan tidak peduli kecuali yang menjadi kepentingannya. Semoga semakin banyak yang mendapat anugerah kebijaksanaan di tengah kehidupan yang tetap menyisakan sisi ketidakmenentuan dan berbagai persoalan kemanusiaan yang memprihatinkan. Kekayaan, kepintaran, dan kekuasaan semoga membuat seseorang semakin bijaksana. (ODPT-II, 17 Nopember 2016).

Daripada mengumpat kegelapan lebih baik kau nyalakan lilin", demikian sebuah ungkapan. Menjadi pengamat atau penonton lebih mudah daripada melakukannya. Sebagaimana lebih mudah mengeritik atau mengumpat daripada mencontohkannya. Boleh jadi inilah yang menjadi alasan mengapa sebelum memangku tugas terlebih dahulu dipersyaratkan pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan dua hal penting untuk sebuah tugas sukses. Sebuah bangsa besar, demikian kiranya, memerlukan mereka yang kaya ide dan sekaligus mampu menunjukkan cara kerja ide. Tidak semata mampu menunjukkan kekeliruan dan mengumpatnya. Seorang individu juga demikian, jika ingin membuat perubahan. Ia mula-mula harus mampu mengubah dirinya sebelum mengubah yang lainnya. Sungguh pekerjaan mengubah diri sendiri merupakan pekerjaan yang tidak selalu mudah. Jika kita mengamati sekeliling, maka akan kita temukan bagaimana orang-orang mengubah dirinya. Ada yang sukses, karena itu ia berhasil dan selamat. Namun, ada juga yang tetap begitu saja tanpa perubahan. Ada juga yang berusaha berubah meski sedikit demi sedikit. Menyadari perubahan positif adalah awal keberhasilan hidup. (ODPT-II, 16 Nopember 2016).

Agama mengajarkan setiap perbuatan akan menuai akibat atau hasil. Hasil atau akibat itu tidak hanya dapat dilihat dan diperoleh di dunia, tetapi juga di akhirat. Akibat di akhirat malahan merupakan suatu kepastian. Maksudnya, pasti dijumpai setiap orang. Agak berbeda dengan akibat di dunia yang boleh jadi tidak secara langsung diperoleh karena ditunda hingga nanti di akhirat. Di dunia ini, perbuatan baik atau buruk kadang sudah langsung ada akibatnya. Komunikasi yang baik dengan sesama, misalnya, dapat mengakibatkan sesuatu yang bernilai positif. Tidak jarang seseorang memperoleh keuntungan yang tak disangkanya karena komunikasi yang baik. Sebaliknya, karena komunikasi yang buruk berakibat merugikannya. Seseorang yang bersikap santun atau sebaliknya kasar setidaknya secara langsung dapat melihat akibat atau hasilnya. Bersikap menolong orang akibat baiknya akan diperoleh dalam jangka panjang di akhirat. Sedang di dunia ini, akan menambah teman atau setidaknya bagi yang melakukan kebaikan menolong sesama memberi rasa kesyukuran mengabdi. Untuk itu, mengupayakan komunikasi dan sikap yang baik serta menghindari perilaku buruk merupakan pilihan yang tepat dan bijaksana. Mereka yang bijaksana akan memilih dan mengharap akibat yang baik. (ODPT-II, 15 Nopember 2016).

Kelahiran anak sebagaimana sebuah kelahiran yang dikontraskan dengan kematian. Ungkapan Arab menyatakan:"Kita lahir dengan tangisan, namun disambut tawa gembira orang di sekeliling. Sebaliknya saat meninggal kita berharap dapat tersenyum, namun diiringi tangis orang yang kita tinggalkan". Kelahiran anak adalah anugerah sekaligus amanah. Karena itu orang tua bergembira dan bersyukur. Ia juga adalah amanah karena itu anak perlu dididik dan dipersiapkan sehingga dapat menjadi manusia yang beriman, berilmu pengetahuan, berakhlaq karimah, terampil, dan mandiri. Anak manusia memiliki masa tumbuh kembang. Ia perlu dipersiapkan sejak dalam kandungan. Bahkan dikatakan "didiklah anakmu 20 tahun sebelum ia lahir". Maksudnya pilihlah calon isteri atau suamimu yang akan menjadi ayah atau ibu dari anakmu. Pasangan ayah-ibu yang baik insya Allah akan melahirkan anak keturunan yang baik pula. Orangtua atau keluarga adalah madrasah yang pertama dan utama. Selain itu, anak-anak juga mendapat pendidikan dari sekolah dan lingkungan masyarakat. Anak perlu mendapatkan pembiasaan yang mengantarnya mengenal nilai tauhid, adab sopan santun, dan keterampilan serta kemandirian hidup. (ODPT-II, Palopo, 14 Nopember 2016).

Filosofi menunjuk, begitu diajarkan oleh seorang guru tentang menunjuk seseorang akan suatu perbuatan. Khususnya menunjuk orang melakukan suatu tindakan buruk atau mencemooh dan mengejek seseorang. Filosofi menunjuk mengajarkan kalau seseorang menunjuk orang lain akan suatu tindakan atau kelemahan, satu jari telunjuk mengarah kepada orang yang ditunjuk sedangkan tiga jari mengarah kepada dirinya sendiri. Ini dimaknai kalau seseorang mengejek atau mencemooh orang lain pada dasarnya dirinya sendiri lebih buruk dari orang yang ditunjuknya. Karena itu, perlu berhati-hati agar tidak mudah menunjuk orang lain termasuk mengejek atau mencemooh dan merendahkan martabatnya. Ada juga perilaku menunjuk lainnya, yakni ketika ada kesalahan yang dilakukannya, menunjuk contoh buruk atau yang lebih buruk untuk membenarkan atau mendukung tindakan keliru yang dilakukannya. Mungkin inilah di antara kelemahan manusia yang memerlukan kesadaran tinggi dan upaya yang sungguh-sungguh untuk meninggalkannya. (ODPT-II, Batam, 13 Nopember 2016).

Sebelumnya perlu dirintis lalu ditetapkan dan ditata hingga menjadi sebuah jalan yang nyaman dilewati. Boleh dikata akses jalan merupakan prioritas pembangunan. Adanya jalan memudahkan mobilitas masyarakat. Dan itu berarti memungkinkan terjadi peningkatan kualitas kehidupan dalam berbagai bidang: ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam kehidupan ini diperlukan sang pembuat jalan, yakni mereka yang merintis atau memelopori suatu usaha yang baik. Kepeloporan itu menjadi jalan bagi orang-orang untuk mendapatkan sesuatu nilai tambah. Melalui kepeloporan orang-orang berikutnya lebih mudah dan mendapat peluang untuk mengusahan sesuatu yang baik. Agama mengajarkan barang siapa yang membuat suatu tradisi yang baik, ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala dari orang yang mengamalkan dan melanjutkannya. Sang pembuat jalan adalah mereka yang dianugerahi visi tentang suatu yang bernilai di masa depan yang dirintis dan dipeloporinya di masa kini. Boleh jadi apa yang dibuatnya itu sesuatu yang sederhana dan kelihatannya kecil, tetapi di belakang hari ternyata dapat dirasakan sangat besar manfaatnya. Mari berbuat dan beramal meskipun itu sederhana seumpama jalan kecil. (ODPT-II, Batam, 12 Nopember 2016).

"Buruk muka cermin dibelah", peribahasa yang memiliki makna tindakan seseorang yang menyalahkan keadaannya yang buruk kepada orang lain. Mungkin mengambil tanggung jawab atas suatu kesalahan tidaklah mudah. Lebih mudah mencari-cari kambing "hitam" alias menimpakan penyebab kepada orang lain. Psikologi manusia yang tidak ingin mengakui kekurangannya dapat menjadi salah satu penghambat peningkatan kualitas dirinya. Demikian juga, dapat menjadi penghalang terwujudnya hubungan yang harmonis. Wajah terbelah mengandaikan inkonsistensi yang berumah dalam diri individu. Sebagaimana bergeloranya dorongan ke arah tindakan baik atau tindakan buruk. Takdir manusia yang demikian itu bukannya tanpa jalan keluar. Kesadaran yang menyertai kepahamannya memberi pilihan. Artinya manusia tetap memiliki kuasa untuk menjalani yang terbaik. Hanya saja, kita seharusnya penuh kesungguhan memperjuangkan wajah utuh. Semoga Allah swt. senantiasa memberi hidayah dan kasih sayangNya kepada kita. (ODPT-II, Makassar, 11 Nopember 2016).

Apa gerangan yang menjadi ukuran untuk menilai suatu keberhasilan? Berangkat dari ukuran nilai tersebut, orang-orang memilih apa yang menurutnya bisa menunjang untuk mencapainya. Sebagian orang berpendapat pendidikan adalah satu cara untuk tidak mengatakan yang paling penting yang dapat membantu mencapai keberhasilan. Bagi sebagian kalangan yang lain, keberhasilan itu dapat dicapai dengan cara lain, melalui pengalaman berusaha. Sehingga menurut mereka tidak perlu sekolah tinggi untuk berhasil dan sukses bahkan menjadi "kaya". Untuk sukses, anak-anak sejak remaja sudah harus diajari berdagang dan berusaha. Tentu pandangan di atas memiliki alasannya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mengompromikan keduanya. Pendidikan tetap penting dan merupakan kebutuhan mendasar. Sedang keterampilan berusaha juga penting dan dapat saja dilatih kepada anak-anak tanpa perlu meniadakan kesempatan belajar di sekolah. Lebih jauh, keberhasilan hendaknya dilihat bukan semata dari ukuran materi keduniawian. Ia hendaknya juga dilihat dari segi nilai keukhrawian. (ODPT-II, Palopo, 10 Nopember 2016).

Halaman 1 dari 13