Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Setiap manusia perlu memelihara relasi dengan dirinya sendiri, dengan alam semesta, dan dengan Tuhannya. Melalaikan salah satu di antaranya akan mengakibatkan dirinya kehilangan keseimbangan hidup. Dan, tanpa keseimbangan hidup, manusia akan mengalami penderitaan serta kesengsaraan. Memelihara relasi dengan diri bermakna mampu mengarahkan diri sesuai dengan fitrahnya: memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Memelihara relasi dengan alam semesta bermakna mampu menempatkan diri secara harmonis dengan anggota-anggota jagat raya: sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk ciptaan Allah swt. lainnya. Memelihara relasi dengan Tuhan bermakna kemampuan diri manusia menempatkan diri sebagai hambaNya yang berkewajiban menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Sumber kekacauan dan konflik biasanya bersumber dari ketidakmampuan memelihara 3 (tiga) bentuk relasi ini. Agar ketiga relasi ini berjalan baik, diperlukan tuntunan dan pedoman hidup. Karenanya, al-Quran perlu dibaca dan diamalkan. (ODPT-Palopo, 20 Agustus 2016).

Sejarah memerlihatkan ada masa kejayaan dan masa keruntuhan bangsa-bangsa. Kejayaan suatu bangsa setidaknya ditentukan oleh tiga faktor: keunggulan SDM, kekuatan ekonomi, dan kekuatan pertahanan. Belajar dari pengalaman, bangsa-bangsa yang maju disebabkan karena kesungguhan dan penghargaan mereka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaitannya dengan kekuatan ekonomi dan pertahanan, dua hal ini juga harus dikembangkan dengan basis ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, jalan menuju kejayaan tidak bisa tidak kecuali dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Perspektif ini harus sedemikian kuat sehingga sosial engineering pun seharusnya diletakkan dalam kerangka ini. Mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disosialisasikan sejak dini, sejalan dengan pengembangan karakter. Kaum Muslim seyogianya menjadi pionir dalam hal ini. Mengikuti pola pikir ini adalah langkah maju menuju kejayaan. Bukannya terjebak dalam keruwetan agenda sosial politik tak berujung dan tidak relevan. (ODPT-Palopo, 19 Agustus 2016).

Manusia dibekali dengan naluri. Naluri itulah yang membantu manusia berupaya memenuhi apa yang diperlukannya untuk hidup. Naluri juga membantu mengantisipasi apa yang membahayakannya dan apa yang bisa berguna baginya. Binatang demikian juga halnya, dilengkap naluri. Naluri pula yang dipergunakannya untuk hidup dalam dunianya. Cara-cara melanjutkan kehidupannya dan menghindari bahaya misalnya, adalah di antara contoh penggunaan naluri binatang. Tapi, manusia juga dilengkapi dengan naluri beragama. Sehingga, naluri inilah yang mendorong manusia menyadari kebutuhannya terhadap agama. Maka, sepanjang kehidupannya manusia tidak terlepas dari ritus-ritus agama dari kuno hingga agama wahyu. Dalam realitas hidup, mengasah kompetensi profesional dapat mengkonstruk naluri khusus. Misalnya, anjing pelacak, dilatih sehingga memiliki kemampuan khusus sesuai latihannya. Karena itu, jika seseorang melatih secara terus menerus kompetensi atau kebiasaan, ia akan memiliki nalurinya. (ODPT-Palopo, 18 Agustus 2016).

Ada merdeka yang diperjuangkan karena hanya dengan jalan itu hak lainnya dapat diperoleh. Saat umat manusia menyadari haknya, maka segala kekuatan yang menghalangi atau merenggutnya akan berhadapan dengan pemiliknya. Bisa saja meskipun mungkin sulit dipercaya, sang pemilik hak bahkan rela mengorbankan jiwanya. Ada merdeka yang berupa anugerah. Tuhan telah menghadirkan manusia ke pentas bumi ini dengan status merdeka. Tirani rezim berkuasalah yang merenggutnya. Rezim berkuasa menikmati rampasannya dan memertahankannya dengan segala macam cara. Islam mengajarkan kemerdekaan seorang manusia tercipta tatkala dirinya hanya mengakui yang Ahad Allah swt. Ketundukan hanya kepada Allah swt. dan meniadakan selainNya adalah pembebasan atau kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan dalam realitas kehidupan manusia terkadang semu. Buktinya, teror menghantui dan mengikuti bisa dengan sangat mudah dan kadang dianggap kelaziman. Namun, memerjuangkannya untuk kehidupan adalah kemuliaan. (ODPT-Palopo, 17 Agustus 2016).

Memiliki pendidikan menempatkan seseorang sebagai yang berpendidikan. Idealnya mereka yang berpendidikan tentu tidaklah sama dengan mereka yang tidak berpendidikan. Atau dengan kata lain, mereka yang berpengetahuan tidaklah sama dengan yang tidak berpengetahuan. Orang yang berpendidikan dapat dialamatkan kepada mereka yang mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga dan juga yang mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Pendidikan yang diperoleh dari dua lingkungan ini dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya saling melengkapi. Di lingkungan keluarga, anak-anak akan mewarisi tradisi keluarga baik menyangkut tata krama maupun keterampilan hidup dasar. Di lingkungan pendidikan formal, anak-anak akan mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan, dan moral yang bersifat pengembangan dan khusus. Apapun, tatkala seseorang digelari "berpendidikan", maka yang paling dominan yang diharapkan dimilikinya adalah sikap moral termasuk tata krama dan kesantunan. Maka, mengajarkan sikap-sikap liberal dan "semau gue" bukan hal yang semestinya. (ODPT-Palopo, 16 Agustus 2016).

Memiliki pendidikan menempatkan seseorang sebagai yang berpendidikan. Idealnya mereka yang berpendidikan tentu tidaklah sama dengan mereka yang tidak berpendidikan. Atau dengan kata lain, mereka yang berpengetahuan tidaklah sama dengan yang tidak berpengetahuan. Orang yang berpendidikan dapat dialamatkan kepada mereka yang mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga dan juga yang mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Pendidikan yang diperoleh dari dua lingkungan ini dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya saling melengkapi. Di lingkungan keluarga, anak-anak akan mewarisi tradisi keluarga baik menyangkut tata krama maupun keterampilan hidup dasar. Di lingkungan pendidikan formal, anak-anak akan mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan, dan moral yang bersifat pengembangan dan khusus. Apapun, tatkala seseorang digelari "berpendidikan", maka yang paling dominan yang diharapkan dimilikinya adalah sikap moral termasuk tata krama dan kesantunan. Maka, mengajarkan sikap-sikap liberal dan "semau gue" bukan hal yang semestinya. (ODPT-Palopo, 16 Agustus 2016).

Menampilkan performa Islam secara utuh bagi kaum muslim merupakan upaya terus menerus secara berkesinambungan. Sebagaimana diketahui, ajaran Islam berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya menyangkut peribadatan, tetapi juga mu'amalah dan akhlaq. Maka dalam kehidupan ini misalnya, kita bekerja tetapi juga beribadah, bermu'amalah, dan menampilkan perilaku yang sesuai tuntunan akhlak karimah. Dalam al-Quran Sural al-Baqarah/2: 208, Allah swt. berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu". Karena itu, medan pengamalan ajaran Islam sangatlah luas dalam kehidupan ini. Kita perlu memerhatikan agar terhindar dari sikap keberagamaan yang cenderung mengutamakan nikmatnya "rasa" beribadah secara individual, tapi kurang pada sisi sikap keberagamaan sosial. Menjadi muslim kaffah mengandaikan kerja membangun yang butuh proses dan kesabaran. (ODPT-Palopo, 15 Agustus 2016).

Beragam budaya tercipta melalui pertemuan berbagai budaya dari suku atau bangsa. Suatu negara bisa saja terbentuk dari suku atau bangsa yang budayanya berbeda-beda. Maka, hiduplah mereka menjadi satu negara dengan berbagai budaya yang berbeda. Kondisi ini seharusnya dikelola sehingga menjadi potensi yang menguatkan. Bukan sebaliknya menjadi faktor yang melemahkan dan menjadi ancaman bagi keutuhan suatu negara. Tentu tidaklah mudah mengelola aneka budaya ke dalam suatu intetaksi positif dan saling menguatkan. Dalam konteks ini, hendaknya menjadi pemahaman bersama anggota budaya yang beragam tersebut untuk sanggup membentuk dan membangun budaya baru yang luhur dan unggul. Karena itu, harusnya dapat dibedakan mana yang menjadi puncak-puncak keunggulan dan keluhuran suatu budaya. Puncak-puncak inilah yang diharapkan menjadi bentukan budaya baru bersama. Tak kurang pentingnya, menyangkut saling menghormati antara budaya berbeda. Betapapun, tugas kita adalah merajut harmoni di antara aneka budaya. (ODPT-Makassar, 14 Agustus 2016).

Utusan dari berbagai daerah bertemu di suatu kampus yang menjanjikan harapan masa depan bagi pemuda. Mereka, mahasiswa baru yang datang dengan setumpuk angan dan cita-cita. Latar belakang mereka tentulah tidak seragam. Dari segi ekonomi yang berbeda berdampak pada kontribusi yang mereka berikan. Sedang dari segi penguasaan tertentu aspek akademik, mereka akan dikelompokkan sesuai tingkat kemampuannya. Semua orang tua tentu menaruh harapan kepada mereka semoga sukses menempuh studi lanjut. Mereka seyogianya belajar mandiri mengelola aktivitas belajar, makan, ibadah, olahraga, dan lainnya. Mereka harus tangguh baik secara moral, spiritual, intelektual, dan profesional. Jika didukung motivasi, kemauan, dosen, sarana, dan tak lupa dukungan keluarga, insyaallah akan menuai keberhasilan. Mereka para mahasiswa baru itu akan melewati masa yang bisa saja penuh tantangan. Patut pula untuk mereka doa semoga mampu melewatinya. Semoga keberhasilan yang mereka raih menjadi tangga untuk keberhasilan berikutnya. (ODPT-Malang, 13 Agustus 2016).