Back to Top

Center of Excellences

Pendaftaran Ulang Calon Mahasiswa Jalur UM-PTKIN Tahun 2017 Mulai tanggal 20 Juni sampai 20 Juli 2017
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Berdasarkan pengalaman sebagai pelanggan atau pemakai suatu produk, mulai dari pakaian, makanan, kendaraan hingga jasa traveling dan hotel kita bisa merasakan bedanya. Sepertinya "sesuai harga". Maksudnya, produk yang baik dan menyenangkan itu pasti mahal atau setidaknya harganya berbeda. Karena itu, ada ungkapan klasik "Kalah membeli menang memakai". Sehingga orang-orang tidak segan mengeluarkan biaya yang lebih mahal asalkan mendapatkan layanan atau produk yang berkualitas. Kualitas produk kemudian terlembagakan menjadi image produk yang disebut merek. Para fans pencinta produk memiliki kesan tersendiri bahkan kebanggaan dengan produk yang mereka pakai. Mereka bahkan bisa menjadi sangat fanatik. Fanatisme mereka dapat terlihat melalui komunitas yang mereka bentuk. Saat ini, merek telah menjadi jaminan mutu. Ada perasaan sebagai konsumen, kita tidak hanya membeli barang tetapi juga sekaligus membeli merek. Seandainya interaksi sosial manusia juga telah memiliki merek seperti produk-produk tersebut, kehidupan manusia akan lebih bermakna. (ODPT-Palopo, 2 September 2016).

Investasi jangka panjang seringkali dialamatkan kepada pendidikan. Hasilnya baru dapat dilihat sekitar 20 tahun setelahnya. Orangtua yang menginginkan anaknya sukses akan mengupayakan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Saat kecil sang anak tanpa pilihan. Dia akan dididik sesuai tradisi dan pengertian orangtua tentang pendidikan. Kira-kira saat anak menjelang dewasa dan akan memasuki perguruan tinggi barulah sang anak memunyai pandangan sendiri tentang pendidikan yang akan ditempuhnya. Jika mengibaratkan pendidikan sebagai menanam, maka faktor-faktor keberhasilan tanam dapat dipertimbangkan. Misalnya: bibit, lahan, metode tanam, cuaca, dan pemeliharaan serta lainnya. Di era turbulensi ilmu pengetahuan dan teknologi ini, istilah seorang pakar, cara belajar dan pengelolaan pendidikan hendaknya menyesuaikan. Belum lagi, terkadang di perguruan tinggi selalu ada pengaruh non-akademik yang bisa menjadi penghambat kesuksesan dan keberhasilan anak. Meskipun demikian, bagi anak "studi", istilah bagi mereka yang disiplin dan mencintai belajar, insyaallah dapat melaluinya dengan baik. Orangtua dan pihak pengelola pendidikan perlu bersinergi mendampingi anak-anak yang sedang belajar. (ODPT-Palopo, 1 September 2016).

Tidak ada paksaan dalam agama. Begitu Islam mengajari umatnya. Seseorang tidak boleh dipaksa untuk tunduk dan memeluk Islam. Tunduk dan memeluk Islam haruslah didasari oleh kerelaan menerima dan kepahaman. Sesungguhnya Islam adalah agama yang ajarannya mudah dipahami dan tiada sulit melaksanakannya. Meskipun, tingkat dan kemampuan umatnya berbeda-beda. Kiranya yang terpenting adalah niat yang berproses menjadi usaha amal yang seterusnya berporos sebagai jalan pengabdian kepada Allah swt. Suatu waktu boleh jadi kita harus seperti memaksa diri sendiri, tetapi tidak lain karena kita tahu sedang digoda rasa malas atau keraguan tak beralasan. Kita kadang-kadang memang memerlukan latihan atau pembiasaan melakukan hal yang baik. Setidaknya dengan pembiasaan akan menjadi ringan melakukannya. Namun, tentu kita tidak boleh kehilangan tujuan dan maknanya yang sesungguhnya. (ODPT-Palopo, 31 Agustus 2016).

Allah swt. Maha Mengetahui segala rahasia. Di manapun manusia berada, Allah mengetahui apa yang dikerjakannya. Allah swt. berfirman, "Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia lah yang keenamnya. ... Dia bersama mereka di manapun mereka berada ...", (QS. al-Mujadilah/58: 7). Tidak ada yang dapat disembunyikan dari pengetahuan Allah swt. Karena itu, sekuat apapun seseorang berupaya merahasiakan sesuatu, hal itu hanya bisa berlaku bagi manusia. Pada akhirnya, apapun yang dilakukan seseorang di dunia ini, akan disampaikan catatannya kepadanya. Boleh jadi, masih ada orang yang tidak percaya bahwa hal itu akan terjadi. Tetapi, bagi mereka yang beriman kepada Allah percaya bahwa tak ada yang mustahil bagi Allah. Menyadari hal ini seyogianya menjadikan seseorang menyesuaikan diri agar senantiasa dalam naungan ridhaNya. (ODPT-Palopo, 30 Agustus 2016).

Saya mencoba memaknai kata-kata "bolak-balik" ini. Mungkin ada persamaan makna dengan "pulang-pergi". Kalau membalik kiranya mudah dipahami, jika mengambil contoh ikan yang sedang dibakar lalu sisi-sisinya dibalik. Ini mengingatkan kepada kata Arab "qalbu" yang di antaranya berarti bolak-balik. Dinamakan demikian, karena qalbu manusia memang memiliki sifat seperti itu. Sehingga bagi orang beriman, perlu senantiasa memelihara iman di dada. Karena, boleh saja imannya bertambah atau berkurang bahkan berubah condong kepada kekafiran. Dalam suatu do'a, lazim dipanjatkan kepada Allah swt. agar Dia Yang Maha Membolak-balik qalbu manusia, kiranya memantapkan qalbu orang beriman tetap dalam keimanan, tetap dalam agama, dan tetap dalam ketaatan kepadaNya. Upaya memelihara iman di dada dapat dilakukan dengan senantiasa taat menjalankan ibadah dan menghindari melakukan maksiat. Melalui ibadah kita berusaha dekat Allah swt. Dekat dengan Allah swt. hati menjadi tenang dan mantap. Insya Allah seraya berdoa: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri perunjuk kepada kami ..., (QS. Ali Imran/3: 8). (ODPT-Palopo, 29 Agustus 2016).

Kita tidak mungkin menghindari keragaman. Karena keragaman memang sudah merupakan kemestian. Keragaman adalah takdir kehidupan. Allah swt. menciptakan keanekaragaman tentulah dengan suatu tujuan. Ada yang mengatakan, jika taman itu dihiasi aneka bunga yang berwarna warni, maka akan tampak keindahannya. Sebagaimana langit menjadi indah dengan pelangi. Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang memiliki kekhasan mereka masing-masing. Mereka khas dengan warna kulit, bahasa, dan budaya masing-masing. Kekhasan ini juga dapat terpancar dari cara pandang dan pendapat mereka. Maka, kita akan menemukan aneka pemikiran bahkan tentang satu masalah. Meskipun demikian, mereka semuanya seharusnya menyadari hidup dalam rumah besar yang bernama bumi. Itulah rumah bersama dengan kamar-kamar masing-masing. Rumah bersama ini memerlukan perawatan dan udara untuk bernafas. Mari menjadi udaranya karena kita mampu menenggang kekhasan masing-masing. ODPT-Palopo, 28 Agustus 2016).

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kapasitas akademik dan kejiwaan mahasiswa sebagai peserta didik. Perguruan tinggi meniscayakan pembudayaan "tradisi" akademik atau academic culture. Hal ini untuk menegaskan dan menjernihkan bahwa warga kampus hakikatnya adalah civitas akademika dan bukan civitas politika. Sehingga, dapat dimaklumi manakala kampus berupaya agar nuansa dan budaya akademik itu benar-benar terwujud. Maka, menghindari campur-aksi politik dapat diterima semua pihak sebagai hal yang semestinya. Dukungan berbagai kalangan termasuk para pemangku kepentingan mutlak diperlukan. Juga, agar kampus tidak ditarik-tarik dan dirayu ke ranah politik praktis. Untuk membudayakan tradisi akademik diperlukan kesadaran dan implementasinya dalam hal: membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, dan memublikasi karya akademik. Dalam konteks ini, karakter kepemimpinan yang relevan adalah kepemimpinan intelektual. (ODPT-Palopo, 27 Agustus 2016).

Menjadi berarti dalam hidup, berarti bagi kehidupan kiranya merupakan cita-cita seseorang. Bagi yang telah mengalami, tentu merasakan arti keberadaan seseorang yang dicintai. Maka, kepergiannya akan meninggalkan ingatan berupa kenangan. Kenangan itu sewaktu-waktu datang dan menimbulkan perasaan rindu. Sesungguhnya arti keberadaan seseorang dalam kehidupan ini menurut agama ditentukan oleh amal perbuatannya. Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya". Memberi manfaat bermakna memberi sesuatu yang berguna. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Meskipun itu, mungkin berupa kelebihan yang kecil dan tidak seberapa. Keberadaan yang memberi arti bagi hidup meniscayakan keikhlasan dan kesabaran. Dan, yang tak kurang pentingnya adalah pengertian seseorang tentang makna hidup. Bahwa hidup adalah hendaknya berguna bagi sesama hidup dan kehidupan itu sendiri. (ODPT-Palopo, 26 Agustus 2016).

Makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin itulah semut di zaman Nabi Sulaiman as. Dalam al-Quran Allah swt. berfirman: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kamu, agar kamu tidak dibinasakan oleh Sulaiman dan tentara-tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari", (QS. al-Naml/27: 18). Dijelaskan oleh ulama tafsir dan ilmuan, semut merupakan jenis hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok, memiliki keunikan berupa ketajaman indra dan sikapnya sangat berhati-hati. Juga memiliki etos kerja yang sangat tinggi dan mampu memikul beban yang lebih besar dari badannya. Keunikannya yang lain, semut menguburkan anggotanya yang mati. Namun demikian, tulis Quraish Shihab, semut yang dibicarakan ayat ini memiliki keunikan, yakni pengetahuannya bahwa yang datang adalah pasukan di bawah pimpinan Sulaiman dan yang tidak bermaksud buruk bila menginjak mereka. Prof. Imam Suprayogo, demi mengendalikan semut, menyimpan sesendok gula di pojok rumahnya. Beliau tidak menyemprotnya dengan semprotan racun. (ODPT-Palopo, 25 Agustus 2016).