Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Mungkin bagi orang tertentu tidak ada alasan untuk ADS (Angkuh Dan Sombong). Karena menyadari segala kelebihan yang dimiliki manusia hakikatnya bukanlah miliknya secara mutlak. Semua yang ada adalah milik sang pencipta, Allah swt. Namun bagi sebagian orang yang memiliki kelebihan tertentu dibanding orang yang lain, sifat angkuh dan sombong dapat dianggap hal biasa dan sudah sewajarnya. Apalagi jika secara kasat mata membandingkan kelebihannya, misalnya kekayaannya yang berlimpah, dengan orang miskin. Kita melihat memang ada orang-orang yang sangat kaya seolah-olah kekayaannya itu tidak akan habis tujuh turunan. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang miskin betul bahkan untuk menyambung hiduppun sulit dan tak ada kepastian. Kelebihan apapun baik berupa ilmu pengetahuan dan kekayaan bukanlah untuk dibangga-banggakan. Tetapi, untuk didayagunakan hingga dapat membantu sesama dan kehidupan. Patut pula direnungkan, seberapapun kelebihan yang dimiliki tetap saja terbatas. Selalu ada orang yang lebih dari yang lain. Hanya Allah swt. yang patut menyandang Maha atas segalanya. (ODPT-Purwokerto, 15 September 2016).

Memilih hewan qurban yang memenuhi syarat tertentu baik umur maupun yang sempurna fisiknya mengandung makna bahwa apa yang kita qurbankan haruslah yang memang pilihan terbaik. Hal ini mengandung makna totalitas pengabdian. Mengurbankan hewan dan bukan manusia dipahami sebagian orang bahwa apapun alasannya "manusia" tidak layak diqurbankan. Tidak mustahil tanpa disadari atau boleh juga sangat disadari telah terjadi pengurbanan manusia oleh manusia. Perang yang masih terjadi di beberapa tempat di penjuru dunia ini yang mengancam masa depan manusia adalah salah satu contohnya. Demikian halnya, kegiatan yang dilakukan atas nama apapun yang merugikan martabat kemanusian, misalnya perdagangan manusia. Etika berqurban menghendaki mereka yang berqurban memaksimalkan qurbannya seraya menghindari mengurbankan sesama manusia dalam bentuk apapun. Tidak mustahil karena egoisme pribadi, seseorang tanpa sadar melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Lebih buruk lagi manakala memang ada kesengajaan mengurbankan orang lain demi tercapainya kepentingan diri sendiri. (ODPT-Purwokerto, 14 September 2016).

Berqurban dengan hewan berupa sapi, kerbau atau kambing sunnah muakkad bagi muslim yang mampu. Menyembelih hewan dengan maksud berqurban dilaksanakan sebagai bentuk ibadah yang mendapatkan teladannya dari keteladanan Nabi Ibrahim as. bersama putranya Nabi Ismail as. Bagi Nabi Ibrahim as. perintah menyembelih anaknya Ismail as. dilaksanakannya sebagai bukti ketaatan. Ketaatan Nabi Ibrahim yang total dan kepasrahannya kepada Allah swt. telah ditunjukkannya dan Allah pun menerimanya. Allah kemudian menggantikan Ismail dengan seekor domba. Peristiwa inilah yang kemudian diikuti dan disunnahkan bagi kaum muslim yang mampu untuk menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya bukan daging atau darah yang sampai kepada Allah swt. Tetapi, yang sampai adalah sikap taqwa kepadaNya. Menyembelih hewan qurban diandaikan menyembelih sifat-sifat hewaniah yang buruk yang ada pada diri manusia. Keakuan atau egoisme adalah di antara sifat yang perlu dihindari. Sebaliknya, kaum Muslim seharusnya membangun solidaritas kemanusiaan. (ODPT-Palopo, 13 September 2016).

Qurban bukan korban. Kalau korban maknanya bisa negatif. Misalnya, siapapun tidak ada yang mau dikorbankan untuk sesuatu yang tidak ada nilai dan manfaatnya. Seseorang hanya mau jika sesuatu yang diberikannya itu memiliki nilai manfaat dan inilah yang disebut pengorbanan. Setidaknya apa yang dikorbankannya itu mendatangkan hasil sebagaimana diinginkan. Dalam konteks ini, apa yang diberikan dapat juga disebut korban. Tetapi bukan "korban" dalam arti negatif, yakni "dirugikan". Apa yang kaum Muslim qurbankan jelaslah bukan korban. Bahkan hewan yang disembelih sekalipun bukanlah "korban". Karena keberadaannya membantu terlaksananya ketaatan akan pengabdian kepada Allah swt. Karena itu, qurban tidaklah sama dengan korban kecelakaan lalu lintas atau korban perampokan. Berqurban berarti memberikan atau melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Kerelaan berqurban menunjukkan makna kecintaan kepada Allah lebih utama dari segala-galanya. Semangat berqurban penting untuk langgengnya nilai kebaikan dalam kehidupan manusia. (ODPT-Tole2, 12 September 2016).

Sehari menjelang pelaksanaan 'Idul Adha, kaum muslim yang menunaikan ibadah haji wuquf di Padang Arafah. Wuquf di Arafah merupakan salah satu rukun ibadah haji. Jutaan kaum muslim yang berkumpul dengan niat ibadah yang sama dapat menjadi kekuatan spiritual positif bagi tumbuhnya keikhlasan beribadah. Berbagai rangkaian tata cara pelaksanaan ibadah haji dilakukan oleh calon haji sebelum mencapai puncaknya, wuquf di Arafah. Menyadari kelemahan dan keterbatasan diri sendiri sebagai manusia adalah salah satu hikmah yang bisa diperoleh. Selain, menyelami makna kekuasaan Allah swt. rabb al-'alamin, Tuhan yang Maha luas kekuasaanNya. Dia lah Allah yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan berlainan jenis bahasanya. Di tengah jutaan manusia dan di luasnya padang Arafah mampu membawa perasaan mereka yang hadir betapa kecilnya diri manusia di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan yang Maha Besar, manusia hanyalah secuil debu di padang pasir luas dan tak bertepi. Arafah semoga menyadarkan kita manusia tentang kedirian diri yang senantiasa bergantung kepada kemurahan Tuhan. (ODPT-Tole-Tole, 11 September 2016).

Berpikir sehat merupakan pilihan yang tidak selalu mudah. Karena seringkali kita tergoda menanggapi sesuatu secara emosional. Jika itu terjadi, maka yang lahir adalah berpikir tidak lagi sehat. Nabi Muhammad saw. menasehatkan agar tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah. Mengambil keputusan saat marah beresiko melahirkan keputusan yang tidak tepat. Berpikir dengan akal sehat mengandaikan cara berpikir yang penuh pertimbangan dengan disertai dasar alasan yang memadai. Juga, melalui tata pikir yang benar dan sistematis. Hasil berpikir sehat lebih dapat dipertanggungjawabkan dan meminimalisir kesalahan. Mereka yang berpendidikan seyogianya juga memiliki cara dan tata pikir dengan akal sehat. Karena makna belajar tidak boleh terpisah dari upaya membentuk pola pikir benar. Jadi, belajar tidak sekadar tahu sesuatu, tetapi diharapkan mampu membentuk tata pikir yang benar. Sehingga dapat dibedakan tata pikir kaum terpelajar dari mereka yang tak membelajarkan diri. Dengan mengedepankan akal sehat setidaknya setiap ada masalah ada solusi yang bisa dipikirkan dengan benar. (ODPT-Palopo, 10 September 2016).

Manusia senantiasa akan mengalami keadaan bahagia atau sengsara. Saat bahagia ia akan senang. Sebaliknya saat sengsara ia akan sedih. Kesedihan menimpa seseorang, misalnya saat ia kehilangan. Kehilangan dimaksud berupa sesuatu yang berharga atau dicintainya. Sungguh manusia diliputi kecintaan kepada pasangannya, anak keturunan, alat-alat transportasi, aneka perhiasan, dan binatang ternak serta aneka tanaman. Manusia juga tak dapat menghindarkan diri dari godaan kesenangan dan kecintaan kepada hal lainnya, misalnya kepada kekuasaan dan kekayaan. Maka kehilangan hal-hal yang dicintainya ini dapat menimbulkan kesedihan. Tak ada manusia yang menderita sendirian. Artinya, kesedihan yang dialami seseorang sesungguhnya juga dialami orang lain. Memahami ini setidaknya dapat menghibur mereka yang mengalami kesedihan. Namun yang paling penting, bagaimana menyikapi kesedihan. Bersedih itu manusiawi. Menyikapinya adalah dengan bersabar dan bertawakkal kepada Allah swt. seraya membesarkan hati dengan optimisme. Semoga kesedihan berlalu dan berganti dengan kebahagiaan. (ODPT-Palopo, 9 September 2016).

Produk apapun biasanya dilengkapi dengan pedoman atau cara menggunakan bahkan hingga cara pemeliharaan. Kehidupan manusia juga demikian, Allah swt. melengkapinya dengan pedoman hidup agar manusia tidak tersesat. Pedoman hidup membantu manusia menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Ibarat traffic lights yang sangat berguna bagi pengaturan lalu lintas kendaraan. Nabi Muhammad saw. bersabda, "Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguhkepadanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu: Kitab Allah (al-Quran) dan sunnah RasulNya". Tanpa pedoman, hidup manusia akan kacau dan manusia akan tersesat. Betapa menderitanya mereka yang tersesat, seumpama mereka yang mencari alamat tapi tidak memiliki peta jalan dan tanpa tahu arah tujuan. Alangkah sesaknya hidup tak berpedoman. Karena itu, seyogianya pedoman hidup dipelajari, dipahami, dihayati, dan diamalkan. Memelajari pedoman hidup dapat dilakukan sesuai dengan waktu yang tersedia, di mana dan kapan saja. (ODPT-Palopo, 8 September 2016).

Kalimat ada yang mengesankan baik dan ada juga buruk. Di suatu rumah sakit terpampang spanduk memuat kalimat, "Kata-kata yang baik membantu proses penyembuhan pasien". Begitu digambarkan pengaruh positif kalimat yang baik yang digunakan berkomunikasi dan berinteraksi hinggapun dapat membantu proses sembuh pasien. Kita memang perlu selalu belajar merangkai kata menjadi kalimat yang baik. Tentu saja, kalimat yang mampu membuat suasana batin di antara yang berkomunikasi nyaman. Tapi, tidak semua orang memunyai kemampuan demikian. Sangat ditentukan oleh kebiasaan dan bawaan dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Meskipun, kita juga menjumpai orang-orang yang memiliki kesantunan tinggi dalam menyusun kalimat baik karena latarbelakang pendidikannya. Juga, karena pemahamannya tentang ajaran agama. Kalau kita simak cara menyusun dan memilih kata mereka yang memiliki kesantunan tinggi, mungkin kita akan berpikir bahwa seharusnya ini dipelajari oleh setiap orang. Menyampaikan maksud secara santun melalui kalimat perlu diupayakan setiap orang dan menghindari "hate speech" atau ujaran kebencian. (ODPT-Palopo, 7 September 2016).