Back to Top

Center of Excellences

Pendaftaran Ulang Calon Mahasiswa Jalur UM-PTKIN Tahun 2017 Mulai tanggal 20 Juni sampai 20 Juli 2017
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Banyak pilihan pendapat akan dimulai dari mana suatu pembangunan. Suatu negara boleh jadi berpandangan bahwa pembangunan harus dimulai dari membangun "jiwa". Maknanya sama dengan "character building" atau pembangunan karakter. Pilihan ini adalah pilihan yang sangat strategis. Mengingat kekuatan jiwa atau karakter merupakan unsur fundamental dari suatu pembangunan. Karena kemajuan apapun di bidang fisik mustahil dapat dicapai tanpa kekuatan jiwa atau karakter. Juga, kelanggengan pembangunan dengan segala capaian kemajuan dapat terjamin dengan terpeliharanya kekuatan jiwa atau karakter. Dalam upaya pembangunan karakter atau kekuatan jiwa itu kiranya perlu digali kedalaman makna filosofis nilai kearifan lokal dan nilai yang bersumber dari ajaran agama. Prinsip pentingnya bahwa kita tidak boleh mengabaikan pembangunan karakter sebagai bagian dari kekuatan dan ketahanan bangsa dan masyarakat. Maka, pendidikan seyogianya diarahkan tidak semata pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada kekuatan karakter. Di sini kita dapat memahami mengapa Nabi Muhammad saw. diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia. (ODPT-Jakarta, 11 Oktober 2016).

Sungguh manusia adalah makhluk terbatas. Sebab tidak semua keinginannya dapat terwujud. Betapapun ia mengasah kemampuannya, tetap saja ada hal yang tak dapat dikuasainya. Karena itulah manusia memerlukan kerjasama dan hubungan satu sama lain. Maka bijaksana meninggalkan dan menjauh dari ruang keterbatasan. Idealnya manusia hidup di ruang kemampuannya. Untuk membedakan dua ruang tersebut manusia dapat mendayagunakan akalnya. Hidup dalam ruang keterbatasan akan melahirkan tindakan serampangan. Menyadari keterbatasan akan mendorong seseorang cenderung pada upaya membangun sistem yang memungkinkan adanya partisipasi. Intinya adalah sikap yang lebih realistis dan tidak memaksakan diri dan kehendak untuk hal yang berada di luar kemampuan. Mengelola kehendak dalam ruang kemampuan insya Allah akan melahirkan keteraturan dan kenyamanan hidup. Tidak berarti semangat harus kendur karena sadar akan keterbatasan. (ODPT-Makassar, 10 Oktober 2016).

Ikhtiar mengatur warga masyarakat tersimpul dalam suatu susunan negara dan penyelenggaraan pemerintahannya. Negara hadir melindungi kepentingan bersama warga masyaratnya. Pada saat yang sama menjamin kesejahteraan, keamanan, dan ketertiban sosial. Di abad modern ini, kita mendapati perkembangan negara di dunia yang berbeda-beda ideologinya. Ada negara yang beraliran agama, sekular, dan lainnya seperti Indonesia yang negara "bukan-bukan". Bukan negara agama dan bukan negara sekular. Indonesia mendasarkan pada Pancasila. Keunikan Indonesia meskipun bukan negara agama, tetapi negara menjamin kepemelukan agama dan kebebasan menjalankan agama bagi pemeluknya. Kita telah sejauh ini dengan ideologi khas bangsa Indonesia. Kita menginginkan negara lebih berperan lagi menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Tentu dimulai dari hal-hal yang paling mendasar berupa ketersediaan pangan, sandang, dan papan. Setelah itu, pendidikan dan kesehatan. Akhirnya hidup makmur dan sejahtera terjamin ibadah. (ODPT-Palopo, 9 Oktober 2016).

Berbunga dan bercabang pendapat tentang politik dan agama. Yang cukup seru mudah dijumpai saat pemilihan untuk suatu posisi dan jabatan, misalnya jabatan presiden atau gubernur. Perbincangan dapat bermula dari persyaratan, hingga mencakup mekanisme dan proses pemilihan. Bahkan, tidak ketinggalan aneka kisah berhikmah menghiasi penuturan. Mungkin ada baiknya kita merenungkan langkanya minat menjadi "imam" shalat di masjid. Apalagi "imam plus", maksudnya imam yang juga bisa menjadi khatib dan berwawasan luas. Dibanding minat menjadi "imam" politik yang selalu ramai dengan peminat. Kadang disertai usaha yang heboh dan menggunakan segala daya upaya termasuk dana. Padahal kita bisa banyak belajar kepemimpinan dari imam shalat. Misalnya, senantiasa legowo dan senang hati jika dikoreksi "makmum" (pengikut) karena keliru atau lupa. Juga dalam shalat berjamaah, telah diatur sedemikian sehingga mereka yang berada di "ring 1" (shaf atau barisan pertama) adalah mereka yang mampu mengingatkan atau membetulkan imam jika keliru dan bahkan menggantikan jika imam tak dapat melanjutkan tugasnya. Semoga kaum Muslim membenahi dan memersiapkan kader-kader imam shalat. (ODPT-Makassar, 8 Oktober 2016).

Dalam salah satu ayat al-Quran, Allah swt. menyatakan, "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah dan berbuat amal shaleh?". Mengajak kepada yang baik adalah kewajiban setiap Muslim sesuai dengan kemampuannya. Itulah yang disebut berdakwah atau amar ma'ruf nahi mungkar. Ajakan kepada yang baik dapat dilakukan dalam dua bentuk melalui lisan dan amal perbuatan. Berdakwah dinilai sebagai "perkataan yang lebih baik" yang tidak ada lagi usaha yang menandinginya karena esensi dakwah selalu berupaya mengarahkan manusia berbuat baik atau lebih baik. Semakin banyak yang melibatkan diri dalam kegiatan dakwah, semakin semarak lah kegiatan religius. Pada akhirnya kita berharap pengamalan ajaran Islam juga semakin meningkat. Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak berdakwah. Karena dakwah dapat dilakukan meskipun hanya dengan satu ayat. Artinya dengan minimal pengetahuan yang dimilikinya. Juga, karena dakwah dapat melalui contoh sikap dan tingkah laku yang baik. (ODPT-LAc, 7 Oktober 2016).

Saya agak memertanyakan ungkapan "mental tempe" yang berasosiasi negatif. Karena saya termasuk penikmat tempe. Tempe adalah makanan istimewa. Ia dapat diolah menjadi aneka kuliner yang lezat. Mungkin maksud ungkapan "mental tempe" adalah mental yang lembek. Padahal kalau diolah, tempe bisa menjadi keras. Toh juga ada makanan lain yang juga bahannya lembek. Tempe makanan murah meriah dan bergizi. Ia adalah makanan rakyat hingga elit. Jika diolah dari bahan yang berkualitas dan disajikan dengan memerhatikan pengolahannya secara baik, tempe dapat menjadi solusi untuk memenuhi gizi masyarakat. Tidak harus bangga hanya dengan makanan yang mahal. Karena yang penting adalah aneka nilai manfaatnya. Saya tidak sependapat menjadikan tempe sebagai simbol yang negatif. Boleh jadi itu adalah cara mengkampanyekan makanan lainnya. Bangga makan tempe, sehat bergizi harga terjangkau. Semoga kita mensyukurinya sebagai karunia Tuhan. Hidup sehat dan ibadah lancar. (ODPT, 6 Oktober 2016).

Demi meyakinkan sang kekasih akan cintanya, seseorang rela melakukan dan memberikan apa saja. Itulah yang agaknya disebut oleh orang yang sedang mencintai disebut "bukti" cinta. Bagi ilmuan, demikian halnya, memerlukan bukti atau pembuktian akan kebenaran suatu teori. Pembuktian ilmiah memiliki prinsip-prinsip dan cara kerja atau metodologi tersendiri. Kebenaran iman juga memiliki bukti atau pembuktian yang tidak harus sama dengan kebenaran ilmiah. Artinya pembuktian kebenaran iman tidak selalu sama dengan pembuktian ilmiah. Maksudnya, apa yang kita yakini benar belum tentu dapat dibuktikan secara saintifik-ilmiah. Dalam interaksi sosial, anggota masyarakat perlu menunjukkan bukti kemasyarakatannya dengan berpartisipasi bagi terciptanya kondisi yang lebih baik. Seringkali bukti itu agak mengalami hambatan disebabkan berbagai macam faktor kepentingan. Tetapi, prinsip agama menyatakan: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya". Maka, bukti kemasyarakatan bagi seseorang adalah mewujudnya kemaslahatan dengan kehadirannya". (ODPT-Palopo, 5 Oktober 2016).

Tindakan yang tak lazim dapat menjadi hal yang aneh. Meskipun bisa berbeda penilaian di antara orang-orang karena perbedaan sudut pandang. Artinya, bagi orang tertentu dapat dinilai aneh, tapi bagi yang lainnya adalah hal biasa. Dalam agama ada hal atau kejadian tak lazim atau sangat luar biasa yang disebut mukjizat. Para Nabi Allah mendapat mukjizat untuk meyakinkan umatnya akan kebenaran kenabian dan ajaran yang dibawanya. Nabi Musa as. dapat mengubah tongkatnya menjadi ular yang memakan ular-ular ciptaan para penyihir Fir'aun. Nabi Isa as. dapat menyembuhkan orang buta. Nabi Muhammad saw. diberi mukjizat al-Quran oleh Allah swt. Sebagai Mukjizat, al-Quran sampai sekarang tidak ada satu kitab yang dapat menandinginya dari berbagai aspek. Keanehan juga dapat terjadi pada cara berpikir seseorang. Misalnya, karena dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip rasional. Bisa juga, karena berbeda dari prinsip-prinsip dan tuntunan ajaran agama. Kita memang perlu berhati-hati terhadap hal-hal aneh yang menyesatkan. Karena itu, belajar agama secara benar dari sumber yang benar menjadi penting. Juga, penting selalu menguji pendapat melalui diskusi yang sehat, (ODPT-Palopo, 4 Oktober 2016).

Selalu melihat diri benar tak pernah keliru. Kalaupun ada kekeliruan atau kesalahan yang disadari, selalu dicari pembenarannya. Demikianlah, keakuan cenderung merasa benar. Inilah di antara kelemahan manusia. Padahal salah satu ciri manusia adalah berpotensi melakukan kesalahan. Tidak ada jaminan atau tidak ada yang bisa menjamin manusia bebas dari kesalahan. Hanya Nabi Allah Muhammad saw. yang bebas dari kesalahan (ma'shum). Untuk itu, demi mencapai kehidupan yang lebih baik, manusia perlu berupaya menghindari sikap "keakuan". Setiap orang perlu dengan kesadaran yang mendalam akan kelemahan diri sendiri senantiasa mawas diri. Juga, perlu senantiasa bersikap terbuka dan mampu menghargai orang lain. Tanpa sikap seperti itu, seseorang akan mudah terseret perasaan "keakuan" diri. Jika pengaruh itu sedemikian kuat, ia akan sulit melihat kekurangan atau kesalahan yang dilakukannya. Akibatnya lagi, ia akan menjadi pribadi yang sulit menerima pandangan atau pendapat orang lain. (ODPT-Palopo, 3 Oktober 2016).