Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Peribahasa "Lupa kacang akan kulitnya" berarti orang-orang yang lupa akan asal usul atau latar belakangnya. Setelah berhasil dia lupa saat susah dan mendapat pertolongan orang lain. Dia hanya ingat akan keberhasilannya sendiri. Boleh jadi ada orang yang dahulunya susah atau miskin, tetapi kemudian berkat usahanya ia berhasil menjadi sukses dan kaya. "From zero to hero", dari tak ada apa-apa kemudian menjadi memiliki banyak apa-apa. Ungkapan ini sebenarnya baik dan memotivasi bahwa seseorang dapat saja memulai sesuatu dari nol, tetapi kemudian menjadi berhasil luar biasa. Yang seharusnya dihindari adalah melupakan sama sekali bantuan orang lain betapapun kecilnya. Sungguh tidak ada orang yang mencapai sukses karena dirinya sendiri dan tanpa bantuan orang lain. Meskipun, perlu pula dipahami bahwa orang yang membantu belum tentu mengharapkan balasan. Alangkah baiknya jika mereka yang sukses tetap rendah hati untuk mengakui bantuan orang lain. Juga meyakini keberhasilannya karena perkenan dan anugerah Allah swt. Tanpa kesadaran ini, seseorang dapat menjadi takabbur. (ODPT-II, Palopo, 23 Oktober 2016).

Ada hal yang mungkin dan yang tak mungkin bagi manusia dalam kehidupan ini. Manusia diberi batas kemampuan untuk meraih apa yang mungkin dalam hidupnya. Maka, menjalani hidup seharusnya memiliki informasi yang banyak tentang mana yang mungkin dan tidak mungkin itu. Meskipun demikian, manusia terkadang perlu agak berhati-hati menentukan mana yang tidak mungkin. Sebab, boleh jadi tampaknya "impossible", tetapi ia dapat menjadi "possible" hanya dengan sedikit tambahan semangat dan upaya. Dari sini pula berkembang kalimat motivasi, "tak ada yang tak mungkin sepanjang manusia berusaha dan mendapat perkenan Tuhan". Jadi, tetap memerlukan persyaratan, yaitu: usaha dan restu ilahi. Boleh jadi, akan lebih elok manakala manusia merencanakan kehidupannya dalam batas kemampuan. Tetapi, untuk hal yang tampak "tidak mungkin", namun berada dalam jalur tuntutan hidupnya, manusia tidak seharusnya berputus asa. Ia perlu menambah daya upaya dan senantiasa berdoa kepada Allah swt. Maka, naluri belajar, pengalaman hidup, semangat, daya upaya, dan doa hendaknya menjadi bagian dari pengharapan manusia akan "possible" life. (ODPT II, Palopo, 22 Oktober 2016).

Diri seorang hamba tunduk dan berada dalam penguasaan Sang Khaliq. Sikap pasrah yang lempang dalam ketaatan kepadaNya menjadi pilihan sejati seorang hamba. Dia Allah kekuasaanNya melampaui segalanya. Maka kekuasaan selainnya bersifat terbatas. Pernah dalam sejarah kekuasaan, suatu negara menguasai negara lainnya. Penguasaan itu ada kalanya meningkat menjadi penjajahan. Manusia cenderung ingin berkuasa. Apalagi bagi mereka yang telah menjalani hidup sebagai penguasa. Ia akan cenderung mempertahankan kekuasaannya. Bahkan, memperluasnya. Sesungguhnya pelajaran sederhana adalah belajar menguasai diri sendiri. Yang jauh lebih berat dari pada perang adalah justru perang menguasai diri sendiri. Manusia tampak lemahnya, jika sudah berhadapan dengan kepentingan diri pribadi. Sehingga sulit untuk menaklukkan diri sendiri. Pangkal berbagai masalah justru bermula dari ketidakmampuan menguasai dan mengendalikan keinginan diri pribadi. Sebagai hamba, permohonan tulus ikhlas senantiasa kita panjatkan kepada Allah swt., kiranya kita diberi kekuasaan untuk menguasai diri. (ODPT-Palopo, 21 Oktober 2016).

Beberapa saat belakangan ini, dikembangkan kuliner seperti ikan tanpa tulang dan ayam tanpa tulang. Saya menduga hal itu dimaksudkan agar penikmatnya lebih nikmat lagi menyantapnya sekaligus lebih nyaman dan mudah. Begitulah cara yang diupayakan manusia demi melayani hidup dan kehidupannya agar semakin hari semakin efisien dan efektif. Dari sisi produsen, memberi kemudahan dan kenyamanan optimal bagi konsumen menjadi spirit berusaha yang menyatu dalam kreasi mereka. Suatu saat kreasi ini akan merambah kepada buah-buahan sehingga akan dijumpai durian tanpa biji atau rambutan tanpa biji. Mungkinkah pula suatu saat nanti ada "mawar" tanpa duri?. Sehingga lebih mudah memetiknya? Atau memang tetaplah ia begitu karena seharusnya memang begitu. Layaknya kehidupan yang memang tidak selalu mudah dan itulah hikmah yang sebenarnya harus dipahami manusia?. Tertusuk duri ataukah duri dalam daging konotasinya selalu negatif. Karena itu, agama mengandaikan membuang duri dari jalan nilainya sebagai ibadah atau sedekah. Semoga kita bukanlah duri jalanan. Kalaupun duri, mungkin lebih baik memilih sebagai duri sang Mawar. (ODPT-II, Palopo, 21 Oktober 2016).

Negeri yang mendapat azab (laknat) dikisahkan kepada kita oleh al-Quran. Sebabnya, karena ulah penduduknya yang melampaui batas dan melanggar larangan Allah swt. Di antaranya terbaca dalam Surah Hud/11: 60: "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini, dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah sesungguhnya Kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi Kaum 'Ad, yaitu Kaum Hud itu". Konsekuensi suatu perbuatan dapat secara nyata dijumpai dalam kehidupan dunia dan di akhirat kelak. Suatu negeri yang penduduknya ingkar dan telah melampaui batas kedurhakaan akan menemui ajal kebinasaan. Jadi, bukan hanya manusia sebagai individu yang menemui ajalnya, tetapi juga penduduk atau masyarakat. Oleh karena itu, baik secara individu maupun bersama, ketundukan kepada sistem keimanan kepada Allah swt. seharusnya menjadi pegangan. Negeri-negeri yang pernah ada lalu musnah akibat kedurhakaan menjadi pelajaran bagi kita. Musnah dapat juga berarti kemunduran atau kehancuran moral dan menipisnya solidaritas kemanusiaan. Atau, suatu negeri yang dilanda berbagai masalah yang tidak menemukan solusinya. (ODPT-II, Palopo, 20 Oktober 2016).

Manusia diilhamkan dengan dorongan kepada keburukan atau kepada ketakwaan. Manusia memilih sebagaimana mereka bebas untuk ingkar atau beriman kepada Allah. Apakah senang dan bahagia adalah pilihan? Sebagaimana manusia juga bisa memilih untuk tidak bahagia alias menderita? Ada banyak persepsi tentang senang atau bahagia yang berbeda-beda. Ada yang mendasarkan pada materi, batin, ataupun mengakomodir keduanya. Memang keduanya itulah yang ideal jika dapat dimiliki seseorang. Pandangan lainnya mengatakan senang atau bahagia itu jika seseorang dapat banyak memberi bagi sesama dan kehidupan. Dalam ungkapan agama, "sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama manusia". Terkadang kita merasa dunia demikian kejam. Terutama tatkala kita melihat penderitaan yang dialami seseorang dan ia terbelenggu dengan penderitaannya itu. Atau ia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu derita yang dialaminya. Walaupun, kita tidak dapat memastikan apakah sungguh ia menderita sebagaimana kita melihatnya. Memilih senang bermakna kelapangan hati akan keadaan yang menghantar kepada perkenan dan perolehan janjiNya. (ODPT-II, Palopo, 19 Oktober 2016).

Hidup mengikuti irama alam: kemarau dan hujan. Atau beberapa musim berganti di belahan bumi sub tropis: dingin, semi, panas, dan gugur. Manusia dapat hidup di semua cuaca ini. Di daerah yang dingin atau panas, cuaca dan hawa tidak lagi menjadi hambatan yang berarti karena dapat diatasi dengan teknologi. Cuaca dan hawa yang ekstrim telah dapat diatasi dengan rekayasa teknologi. Kita percaya dengan irama alam dengan pergantian cuaca ataupun hawanya. Bahwa semua diciptakan dengan pengaturan yang serasi. Belajar hidup dan beradaptasi dengan alam adalah tindakan yang bijaksana. Allah swt. menganugerahi kita dengan akal dan kemampuan untuk hidup bersahabat dengan alam. Boleh jadi ada saat alam tidak terkendali dan menjadi ancaman bagi hidup manusia. Tetapi, hal itu pasti mengandung rahasia. Bijaksana bersahabat dengan alam. Sebaliknya, tidaklah bijaksana dengan mengutuknya atau menyesalinya hanya karena kita tidak merasa nyaman di saat tertentu. Di saat hujan, kita berkata mengapa hujan? Di saat panas atau kemarau kita juga mengatakan mengapa? Padahal semua keadaan itu secara alami adalah keseimbangan. Maka, menjaga kelestarian alam adalah cara memelihara keseimbangan yang membuat hidup manusia menjadi nyaman. (ODPT-II, Palopo, 18 Oktober 2016).

Mengapa harus seumur hidup belajar itu. Makna belajar seumur hidup, "dari buaian hingga liang lahat. Sehingga dapat dimaknai sejak dan selama nafas masih dikandung badan. Dibalik ungkapan itu, dapat dimaknai belajar sebagai kegiatan yang sangat penting dan tidak boleh berpisah dari hidup dan keberadaan seseorang. Karena itu, proses belajar bermacam-macam. Seseorang bisa belajar dari mana, di mana, dan kapan pun. Melalui belajar banyak hal yang bisa kita ketahui dan bermanfaat untuk kehidupan. Setiap saat ada saja yang perlu diketahui. Berdasarkan usia dan tanggung jawab akan menentukan jenis dan tingkatan pengetahuan yang diperlukan. Anak yang masih balita keperluannya belajar masih berkaitan dengan hal yang sederhana, misalnya belajar berbicara dan berjalan. Mereka yang sudah menanjak usia remaja, dewasa, dan tua atau usia lanjut, tentu keperluannya bisa berbeda-beda. Tanggung jawab profesi juga menuntut jenis pengetahuan yang berbeda-beda sesuai profesinya. Yang sama adalah pada tujuannya, hasil yang optimal dan terbaik. Seumur hidup belajar berarti hingga saat akhir hidup pun ada pengetahuan yang diperlukan. ODPT-II, Palopo, 17 Oktober 2016).

Ada saat di lubuk hati terdalam, seseorang menginginkan terlahir kembali dalam keadaan baru. Bukan lahir kembali dalam keadaan serba ada. Bukan juga harapan lahir kembali sebagai keturunan terpandang. Tetapi, terlahir kembali dalam keadaan memeroleh kesempatan untuk memilih dan menempuh yang baik. Penyesalan akan suatu perbuatan masa lampau selalu diiringi pikiran seandainya waktu masih bisa diulangi. Dengan begitu, dipikirkannya dan boleh jadi menjadi janji bagi dirinya sendiri untuk tidak mengulangi hal buruk serupa. Perasaan agar terlahir kembali menunjukkan betapa manusia pada dasarnya baik dan menghendaki kebaikan. Hanya saja, sebab kelemahan yang juga ada pada dirinya yang terkadang menjerumuskannya. Agama menyediakan kesempatan setiap saat bagi keinginan seseorang untuk lebih baik dari sebelumnya. Saat seseorang menginginkannya saat itu pula ia mendapatkannya. Kelahiran kembali bermakna adanya kesadaran baru sesuai tuntunan ajaran agama. Bagi yang mendapatkannya akan terlihat pada sikap dan perilaku hidupnya yang lebih bermakna. Dan, kesyukurannya akan hidup yang memberinya kesempatan. (ODPT-II, Palopo, 16 Oktober 2016).