Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Sangkaan. Sebuah hadis Qudsi: "Aku menurut sangka hamba kepadaKu". Tidak semua harapan kita dapat terwujud secara serta merta. Kadangkala ada yang belum atau tidak terwujud. Bahkan, kadangkala pula terjadi sesuatu yang di luar harapan dan keinginan kita. Begitulah, saat sesuatu menimpa kita di luar yang kita harapkan, tidak sepantasnya kita berburuk sangka kepada Allah swt. Boleh jadi, itulah yang terbaik untuk kita. Setidaknya, sebagai manusia, kita tidak akan pernah luput dari berbagai macam ujian dan cobaan. Dalam keseharian hidup, kita perlu membangun optimisme dan jauh dari sifat pesimisme. Allah swt. melarang kita memiliki sikap putus asa dari rahmatNya. Kita sewajarnya senantiasa memulai dan menjalani hidup dengan sangka baik kepada Allah. Sebagaimana hadis Qudsi di atas, bagaimana sangka kita kepada Allah begitu pula sangkaNya kepada kita. Secara psikologis, sangka baik akan memberi dampak positif terhadap motivasi dan semangat beraktivitas kita. (ODPT-Palopo, 16 Juni 2016).

Kita memahami arti "dzarrah" sebagai sesuatu yang paling kecil atau terkecil. Sejauh ini populer diartikan "sebesar biji atom". Akan tetapi, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan atom bukanlah benda atau partikel terkecil. Karena masih ada partikel yang lebih kecil dari atom, yakni 3 partikel subatom: elektron, proton, dan neutron. Tahun 2004, ilmuan menemukan yang lebih kecil lagi: quark dan lepton. Tidak mustahil ilmu pengetahuan yang berkembang terus itu suatu saat akan menemukan dan menamakan benda yang lebih kecil lagi. Ulama menjelaskan, dzarrah ada yang memahaminya dalam arti kepala semut atau debu yang terlihat beterbangan di celah cahaya matahari yang masuk melalui lubang atau jendela (Tafsir al-Mishbah). Kaitannya dengan amal seseorang, Allah swt. berfirman dalam QS. al-Zalzalah/99: 7-8: "Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihatnya pula". Intinya jangan meremehkan hal kecil baik positif atau negatif. Karena banyak hal besar terjadi diakibatkan oleh hal yang kecil. (ODPT-Palopo, 15 Juni 2016).

Kata ini: "Seandainya" penggalan dari sabda Nabi Muhammad saw. : "Seandainya manusia tahu apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan niscaya mereka menghendaki satu tahun seluruhnya adalah Ramadhan". Hadits ini menunjukkan keberkahan dan kemuliaan Ramadhan. Bulan Ramadhan, misalnya, disebut bulan "rahmat" artinya "kasih sayang". Dijelaskan oleh ulama karena dalam Bulan Ramadhan, Allah swt. melimpahkan kasih sayangnya kepada kaum beriman yang menjalankan ibadah dan amal shaleh. Dikatakan bahwa melaksanakan amal atau ibadah sunnat dalam bulan Ramadhan pahalanya sama dengan pahala ibadah wajib dan memberi buka orang yang berpuasa pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Di bulan Ramadhan ini juga, orang yang berpuasa mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga mampu menghindari sikap egoistis. Demikian juga, diharapkan mampu mengarahkan hawa nafsu agar terhindar dari keburukan. Seumpama "rahim" ibu yang kokoh, tempat bayi mendapatkan makanan dan aneka perlindungan, mereka yang memunyai sifat rahmah tentu dapat menjadi pengayom, pelindung, dan pemimpin yang baik bagi rakyat yang dipimpinnya. (ODPT-Palopo, 14 Juni 2016).

Semua manusia ingin beruntung dan terhindar dari kerugian. Meskipun dalam kenyataan dijumpai ada yang terjerumus melakukan hal yang bisa mendatangkan kerugian baginya. Ini disebabkan manusia memiliki kelemahan yang dapat menyeretnya berprilaku menyimpang dari kebaikan dan tuntunan ajaran agama. Juga, hal yang demikian disebabkan kuatnya pengaruh dan godaan yang datang dari luar diri manusia. Agar manusia terhindar dari kerugian Allah mengingatkan dalam Surah al-Ashr/108: 1-3, yang intinya agar melakukan 4 hal: beriman, beramal shaleh, dan saling berpesan dalam kebaikan serta saling berpesan untuk menetapi kesabaran. Kekuatan iman disertai prilaku amal yang baik dengan senantiasa menunjukkan kebaikan dilengkapi dengan penguatan jiwa menghadapi kenyataan hidup adalah modal mengarungi kehidupan dengan segala tantangannya. Hal-hal ini perlu kita miliki dan praktekkan. Semua ibadah yang kita lakukan hakikatnya membantu kita memilikinya. Kita ingin meraih keberuntungan di dunia dan akhirat. Semoga kita tidak termasuk yang merugi. (ODPT-Palopo, 13 Juni 2016).

Bersaing saling berlomba memerbanyak kenikmatan duniawi dan berbangga-bangga menyangkut anak-anak dan harta adalah sebagian dari sikap bermegah yang dapat melengahkan. Demi sikap bermegah itu, mereka lengah hingga ajal menjemput. Kadang pula demi sikap bermegah, sebagian orang menampakkannya dengan membangun kuburan secara berlebihan. Atau, juga dipahami demi bermegah mereka menunjukkan keunggulan leluhurnya. Saling berbangga dengan kemegahan masing-masing dapat melengahkan manusia dari hal yang lebih baik dan lebih penting. Setidaknya ada 3 hal yang dapat melengahkan manusia: pertama, angan-angan kosong. Kedua, perniagaan dan jual beli. Ketiga, harta dan anak-anak. Intinya, dijelaskan dalam Tafsir al-Misbah: "persaingan memperebutkan kemegahan duniawi tidak akan membawa kebahagiaan dan kepuasan serta tidak mengantar kepada hakikat dan tujuan kehidupan". Persaingan yang tidak sehat dan mengabaikan norma dan nilai agama demi bermegah diri untuk kenikmatan duniawi akan dimintai pertanggungjawaban. (ODPT-Palopo, 12 Juni 2016).

Setidaknya kata "istiqamah" bisa kita baca dari 2 ayat al-Quran: QS. Fushshilat/41: 30-32 dan QS. al-Ahqaf/46: 13-14. Dijelaskan dalam Tafsir al-Misbah, istiqamah berarti "konsisten dan setia melaksanakan apa yang diucapkan sebaik mungkin". Nabi Muhammad saw. menjelaskan total Islam itu "Qul amantu billaah, tsumma istaqim", artinya: "Ucapkanlah aku beriman kepada Allah lalu konsistenlah". Ayat 30-32 Surah Fushshilat menyatakan balasan bagi orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami hanyalah Allah" kemudian istiqamah maka akan turun malaikat-malaikat kepada mereka dan berkata: "Jangan takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kamu. Kamilah pelindung-pelindung kamu dalam kehidupan dunia dan akhirat; bagi kamu disana apa yang kamu inginkan dan kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Dijelaskan Shihab, turunnya malaikat kepada seseorang ditandai dengan terbetiknya dalam hati dorongan untuk berbuat baik dan adanya optimisme menyangkut kehidupannya. Intinya iman tidak cukup hanya dibibir, tapi harus secara kongkrit diwujudkan dalam prilaku amal shaleh. (ODPT-Palopo, 11 Juni 2016).

Puasa dalam bahasa Arab disebut "shaum" yang berarti "menahan". Prakteknya, orang berpuasa berpantang makan dan minum atau dari yang membatalkan puasa untuk kurun waktu tertentu. Menahan diri dapat dipandang sebagai pendidikan nilai dan karakter yang menghasilkan pribadi yang memiliki kemampuan emosional yang stabil. Kemauan menahan diri tanpa orang lain tahu, dapat menumbuhkan semangat ketulusan mengabdi. Bahwa sesuatu yang dilakukan semata karena ketundukan dan kecintaan kepada Allah swt. Energi yang menggerakkan bersumber dari kesadaran bahwa Allah swt. senantiasa Maha hadir dan Maha menyaksikan. Nilai dan karakter berikutnya dari ajaran puasa adalah semangat memberi. Karena mereka yang berpuasa saat yang sama dianjurkan untuk membagi rezeki yang dimilikinya. Bersedekah di Bulan Ramadhan berlimpah pahala. Nabi Muhammad saw. menyampaikan "Barangsiapa memberi buka orang berpuasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa". Puasa mampu menumbuhkan solidaritas dan kepekaan sosial. (ODPT-Palopo, 10 Juni 2016).

Halaman 13 dari 13