Back to Top

Center of Excellences

Pendaftaran Ulang Calon Mahasiswa Jalur UM-PTKIN Tahun 2017 Mulai tanggal 20 Juni sampai 20 Juli 2017
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Era kecanggihan media sosial seperti saat ini, informasi secara mudah berseliweran. Ada informasi yang baik dan ada pula yang buruk. Sayangnya situasi dan keadaan ini terkadang menggoda sebagian orang untuk menggunakannya demi tujuan yang tidak menguntungkan dan tidak bermanfaat. Kemudahan mengunggah informasi, video, foto, dan gambar kadangkala tidak dimanfaatkan secara bijaksana. Demikian pula sebaliknya, kadang pula tidak ditanggapi secara bijaksana. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan: salah pengertian dan ketersinggungan. Oleh karena itu, baik yang mengunggah maupun yang mengunduh atau membacanya keduanya perlu bersikap bijaksana dan berpikir jernih. Terutama penting menimbang manfaat dan dampak yang mungkin timbul. Bagaimanapun kita memerlukan orang-orang yang komitmen menghadirkan informasi yang jernih yang dapat menjadi suluh sekaligus mengademkan hati dan pikiran. Kita tetap butuh mereka yang setia kepada hal ini dan tidak mudah terpengaruh menggunggah ataupun mengunduh tanpa didahului pikiran yang jernih. (ODPT-II, Palopo, 5 Nopember 2016).

Bagi saya angka ini merupakan sesuatu yang istimewa. Karena bermakna tanggal kelahiran saya empat Nopember. Namun hari ini, 411 atau empat Nopember 2016 memiliki makna tersendiri. Karena merupakan hari aksi damai sebagian kalangan Umat Islam Indonesia. Mereka tampak berkumpul di bundaran HI untuk meminta penegakan hukum terhadap dugaan penodaan agama. Semoga saja aksi ini berlangsung damai sesuai namanya "Aksi Damai". Sebagian orang membaca secara kreatif 411 seperti kata لله (untuk Allah). Tentu ini dengan sedikit modifikasi dan bersifat imajinatif. Bangsa yang sangat besar ini pernah, sedang, dan akan selalu mengalami ujian laksana sebuah keluarga. Juga karena kemajemukan masyarakatnya. Kemajemukan masyarakat menuntut pengertian dan kedewasaan setiap anggotanya. Sehingga dalam berinteraksi dan berkomunikasi dapat diantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan. 411 bagi saya merupakan saat berharga tanda berlalunya waktu sebagai saat menilai kedewasaan. Juga, peneguhan tentang semangat mencintai kehidupan dan sesama selaras dengan tuntunanNya. (ODPT-II, Lampung, 4 Nopember 2016).

Hakikat kepemelukan Islam atau menjadi Muslim adalah penyerahan diri secara total kepada Allah swt. Tentu saja pengertian ini sangat mendalam maknanya dan tidaklah mudah mewujudkannya begitu saja. Seseorang mungkin memerlukan tahapan untuk itu. Bahkan boleh jadi ditempuhnya sepanjang perjalanan hidupnya di dunia. Kesediaan menaati perintah Allah dan RasulNya tanpa syarat dalam berbagai bentuk aktivitas dan interaksi sosial senantiasa akan menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan. Terutama tatkala secara kasat mata seperti harus memilih antara pengorbanan demi menaati Allah dan kemudahan yang menipu dan menjerumuskan ke dalam maksiat. Berserah diri dalam hakikatnya adalah penyesuaian dan ketundukan seorang hamba mengemban tugas pengabdiannya kepada Allah swt. yang disadari tidak selalu mudah. Bersamaan dengan itu, menyadari pula bahwa konsekuensi apapun dari penyerahan diri akan membuahkan kebahagiaan. Sehingga penyerahan diri juga menimbulkan optimisme. Apapun bentuk ibadahnya, manusia melaksanakannya "lillahi rabbil 'alamin. (ODPT-II, Lampung, 3 Nopember 2016).

Pertentangan termasuk yang bermula atau terdapat dalam batin seharusnya menemukan solusi. Demikianlah, cara pandang yang bijak. Konflik dalam kehidupan akan selalu dijumpai. Boleh jadi, konflik itu bermula dari hal yang kecil, misalnya salah paham. Akan tetapi, manakala tidak diantisipasi atau dikelola dengan baik konflik kecil dapat menimbulkan akibat yang besar dan membahayakan. Konflik perasaan, keyakinan, pendapat, dan pandangan mengenai sesuatu sewaktu-waktu muncul. Seseorang yang sedang jatuh cinta, namun harus memilih antara perasaan cintanya atau pilihan orang tua tentu akan mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan. Konflik sosial politik jauh lebih rumit lagi karena melibatkan sekian banyak faktor. Terlebih lagi dalam masyarakat multikultural dan multireligius faktor-faktor yang memengaruhi akan lebih kompleks. Oleh karenanya, dalam berbagai bentuk interaksi prinsip saling menghormati dan menghargai antar berbagai komponen masyarakat sangat diperlukan. Apapun, sebagai bagian dari umat manusia, berpikir jernih dan mengutamakan penyelesaian atas masalah hendaknya menjadi komitmen dan prioritas. (ODPT-II, Lampung, 2 Nopember 2016).

Apapun namanya numpang jelas bukan milik. Ikut jadi keren karena teman misalnya, sebenarnya tidak keren. "Be your self", jadilah dirimu sendiri, begitu petuah bijak. Maksudnya kita hendaknya mengandalkan diri sendiri, tidak bersandar pada kemampuan orang lain. Dengan kata lain berupaya menjadi orang yang memiliki kemandirian. Betapa kemandirian itu mahal. Nabi Muhammad saw. mengajarkan "Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah". Menginginkan hal serba instan dapat menjadi pendorong perilaku numpang keren. Ingin keren tapi serba instan akan menimbulkan masalah. Tidak tahan berjuang dan menderita. Sebaliknya ingin cepat berhasil meskipun sebenarnya belum mampu alias hanya mampu numpang keren atau numpang beken. Petuah arif mengajarkan agar kita pandai bersyukur dengan memanfaatkan yang dimiliki secara optimal. Numpang keren dapat menjadikan seseorang menjadi pragmatis. Keren tidaknya seseorang hendaknya dilihat pada prinsip hidup mulia yang dipegangnya, bukan pada gaya hidup berlebihan dan perlombaan prestise. (ODPT-II, BDs, 30 Oktober 2016).

Dia atau saya yang kalah. Maunya "saya" menang dan "dia" kalah. Lazimnya dalam dunia politik orang memahami berbagai proses dan hasilnya sebagai menang atau kalah. Kemenangan pihak tertentu menjadi kekalahan bagi pihak lainnya, demikian sebaliknya. Dapat pula, menjadi sama-sama kalah. Perjudian meskipun ada yang menang, tetapi tetap kalah. Artinya hakikat judi semua yang terlibat mendapat kekalahan. Masyarakat yang memiliki tipikal seperti ini, kontestasi kelompok-kelompok yang ada di dalamnya dicirikan dua hal tersebut: kita atau mereka dan sama-sama kalah. Berbeda dari itu, "Win-win solution" berarti "sama-sama menang" adalah tipikal kontestasi yang mengedepankan keuntungan bersama menghindari ada pihak yang betul-betul kalah dalam arti tak ada sesuatupun yang diperolehnya. Tentunya memang tidaklah mudah menghindari situasi zero sum game. Karena membutuhkan pengertian tentang hidup bersama untuk kebersamaan. Termasuk pengertian tentang makna berjalan beriring dan saling memberdayakan. Tentu masyarakat membutuhkan energi untuk mewujudkannya. (ODPT-II, Lampung, 1 November 2016).

Bening dan jernihnya hati dari segala pamrih kecuali semata mengabdi kepada Allah swt. Ia adalah milik berbagai kalangan. Artinya dapat dijumpai dimiliki orang-orang dari berbagai latar belakang. Keikhlasan merupakan anugerah Allah swt. ke dalam kalbu seseorang. Meskipun mungkin tidak dapat dijelaskan, tetapi disadari menjadi dorongan untuk berbuat. Orang-orang ikhlas menjadi oase kehidupan yang menginspirasi dan menimbulkan haru. Kita misalnya, suatu waktu pernah melihat atau mengetahui seseorang yang sebenarnya tidak memiliki sesuatu tetapi masih bisa menolong dan berbagi. Ada juga yang kaya dan berharta tetapi tetap mau menolong dan membantu. Kisah kaum Anshor yang rela menolong dan membantu kaum Muhajirin menjadi satu bukti. Kita juga menjumpai mereka yang mendonasikan kekayaan atau apapun yang bernilai dan bermanfaat bagi kemanusiaan dan kehidupan. Termasuk juga, dapat kita jumpai yang memiliki pengaruh atau kekuasaan tetapi tetap mengabdi kepada kebaikan. Semoga kita termasuk yang mendapat anugerah keikhlasan. (ODPT-II, Makassar, 31 Oktober 2016).

Sejarah mencatat berbagai peristiwa kebaikan. Terekam dalam berbagai kisah. Ada saja anak manusia yang memiliki kemuliaan jiwa. Mereka mungkin ada di banyak sisi kehidupan. Mereka dapat berada di sisi mereka yang butuh pencerahan, butuh perlindungan, butuh makan atau butuh tempat tinggal dan sebagainya. Orang-orang tak berdaya secara struktural memerlukan orang yang peduli dan berpihak kepada nasib mereka. Sungguh tak dapat dipungkiri adanya ketidakadilan yang menimpa mereka. Diperparah lagi dengan ketidakberdayaan secara ekonomi dan politik. Maka, keberadaan orang-orang yang berperan untuk kebaikan menjadi sangat penting. Mereka yang dimaksud adalah yang memiliki keikhlasan untuk membantu dengan segala daya upaya. Boleh jadi, bantuan itu berupa hal kecil atau sederhana, tetapi yang terpenting adalah komitmen kepada kebaikan dan kepedulian atas nasib yang lemah. Membantu mereka yang lemah lebih kepada memberinya "kail" daripada "ikan". Karena memberi mereka dengan kail akan lebih menjamin keberlangsungan kehidupannya. Sebab, maknanya mereka punya keterampilan dan sumber daya yang memungkinkan untuk itu. (ODPT-II, BDs, 29 Oktober 2016).

Banyak harapan yang dibebankan ke pundak pemuda. Pemuda identik dengan masa depan dan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi suatu bangsa. Belajar dari pengalaman, para pemuda diminta atau tidak diminta dalam situasi yang genting atau kesulitan yang mendera bangsanya, mereka akan berbuat dan memberikan segalanya yang terbaik. Maka suatu bangsa akan menemukan patriotisme dan heroisme pemuda bangsanya. Keadaan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjadi pemicu bagi pemuda. Tampaknya, kesulitan dan penderitaan bangsanya dapat menjadi alasan kuat bagi pemuda untuk berbuat. Namun juga, dalam keadaan damai dan sejahtera tidak jarang dapat menjadi godaan yang melemahkan semangat juang. Betapapun, waktu terus berlalu. Bagi pemuda masa kini seharusnya tidak ada pilihan lain kecuali memersiapkan diri secara lebih baik. Tantangan di era damai tidak kalah beratnya. Kesediaan belajar dan berkarya serta menjadi produktif dan berguna bagi masyarakat hendaknya menjadi pilihan dan prinsip hidup pemuda. Semoga Allah swt. senantiasa melindungi dan membimbing. (ODPT-II, Jakarta, 28 Oktober 2016).