Back to Top

Center of Excellences

Pendaftaran Ulang Calon Mahasiswa Jalur UM-PTKIN Tahun 2017 Mulai tanggal 20 Juni sampai 20 Juli 2017
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Kata "Is-al" ini singkatan dari ungkapan candaan sehari-hari di masyarakat Bugis. "Is-al" atau "Issengi alemu" berarti "tahu diri" (lah). Kata ini dapat dipahami sebagai ungkapan sindiran atau nasihat tak langsung. Seseorang yang berkata-kata atau bertingkah laku tidak sepantasnya biasanya menjadi tujuan kata "Is-al" ini. Dalam pergaulan sehari-hari tidak jarang dijumpai hal yang demikian. Misalnya, ada yang sok menyindir seseorang sebagai "tidak sopan"'atau "melanggar" aturan, padahal ia sendiri melakukannya. Jika seseorang dapat menerapkan "Is-al", ia tidak akan mudah secara serta merta mengkritik tingkah laku orang lain, sebab ia sendiri melakukannya. Menerapkan "Is-al" dalam diri pribadi akan membuat seseorang lebih berhati-hati berbicara dan berbuat. Termasuk dalam memerlakukan orang lain. Pada dasarnya, ungkapan "Is-al" ini menghendaki seseorang tidak sembrono dan semau gue dalam interaksi dengan orang lain. Menghayatinya akan membuat seseorang lebih wajar dalam berprilaku dan tidak memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Yang lainnya, ia akan menjadi orang yang pandai membalas kebaikan yang diterimanya. (ODPT-Palopo, 27 Juli 2016).

Kata "Is-al" ini singkatan dari ungkapan candaan sehari-hari di masyarakat Bugis. "Is-al" atau "Issengi alemu" berarti "tahu diri" (lah). Kata ini dapat dipahami sebagai ungkapan sindiran atau nasihat tak langsung. Seseorang yang berkata-kata atau bertingkah laku tidak sepantasnya biasanya menjadi tujuan kata "Is-al" ini. Dalam pergaulan sehari-hari tidak jarang dijumpai hal yang demikian. Misalnya, ada yang sok menyindir seseorang sebagai "tidak sopan"'atau "melanggar" aturan, padahal ia sendiri melakukannya. Jika seseorang dapat menerapkan "Is-al", ia tidak akan mudah secara serta merta mengkritik tingkah laku orang lain, sebab ia sendiri melakukannya. Menerapkan "Is-al" dalam diri pribadi akan membuat seseorang lebih berhati-hati berbicara dan berbuat. Termasuk dalam memerlakukan orang lain. Pada dasarnya, ungkapan "Is-al" ini menghendaki seseorang tidak sembrono dan semau gue dalam interaksi dengan orang lain. Menghayatinya akan membuat seseorang lebih wajar dalam berprilaku dan tidak memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Yang lainnya, ia akan menjadi orang yang pandai membalas kebaikan yang diterimanya. (ODPT-Palopo, 27 Juli 2016).

Saat terpuruk, diperlukan semangat untuk bangkit. Perjalanan sejarah menunjukkan suatu bangsa atau negara mengalami "pasang dan surut". Ada saat kejayaan dan ada pula saat kemundurannya. Bahkan, ada yang setelah kemundurannya hilang ditelan sejarah alias tak pernah dapat bangkit lagi. Mengandaikan "kemunduran" sebagai lubang, maka seorang mukmin tidak boleh jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama. Dalam kehidupan berlaku hukum sejarah yang sebenarnya juga "pasti". Untuk itu, perlu dipelajari sebab-sebab kemajuan atau kemunduran. Sehingga dengan begitu kita dapat secara maksimal memilih dan mengusahakan hal yang menyebabkan tercapainya kemajuan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah soal kesanggupan kita meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk dan tidak produktif. Misalnya: pertengkaran mengenai soal remeh-temeh, senang berkonflik, dan sikap yang fanatik berlebihan terhadap golongan. Termasuk, sikap selalu mau menang sendiri dan tidak peduli kepada kepentingan orang lain. (ODPT-Palopo, 26 Juli 2016).

Memikul beban umumnya ditugaskan pada "pundak". Tanda pangkat diletakkan di pundak, kemungkinannya untuk menunjukkan pangkat itu adalah beban yang dipikul. Di pundak lah harapan di letakkan. Sehingga ada ungkapan: "Di pundak para pemuda di letakkan harapan dan tanggung jawab". Sejatinya setiap orang memiliki tanggung jawab di pundaknya masing-masing, meskipun tidak selalu sama. Ada yang berat, sedang, dan ringan. Tetapi, dari segi kewajiban sama. Yakni, semua harus ditunaikan. Dalam hidup, mungkin yang sesungguhnya berat bukanlah pada beban yang seharusnya dipikul. Tapi, yang kadang jauh lebih berat terletak pada embel-embelnya. Tatkala pundak dihargai secara material dengan segala sangkanya. Sangka yang menghilangkan logika dan terlihat sebagai kesempatan. Maka, pundak pun dielus. Jika ada tanda pangkatnya, ia dibuat mengkilap. Dihormati tetapi tidak mustahil dijemput dengan harapan tak semestinya. Harapan yang melebihi kemestian dan memang berubah jadi "beban". Pundak memikul bayangan yang padahal memang justru lebih berat. Semoga pundak sanggup memikulnya. (ODPT-Palopo, 25 Juli 2016).

Kata ini diasosiasikan dengan banyak hal. Mereka yang sedang berlayar dengan bahtera rumah tangga mengharap sampai dan berlabuh di "pantai" bahagia. Pantai menjadi tempat perahu dan kapal nelayan bersandar. Pantai juga menjadi tempat bermain bagi anak-anak. Keindahan pantai memiliki kekhasan sendiri. Keindahannya yang asli memikat hati sekaligus mengajak pikiran untuk memuja penciptanya. Manusia, sebahagian memilih hidup dan tinggal di kawasan pantai. Mereka dapat melaut mencari ikan untuk keperluan hidup. Selain memudahkan untuk mengarungi lautnya berlayar ke seantero jagad. Perjalanan mengarungi laut melahirkan aktivitas dagang dan interaksi antar manusia dengan ragam budaya berbeda. Berjalan hingga jauh jika belum sampai tujuan, akhirnya pun menepi. Mungkin, sekadar mengaso atau membeli keperluan sebagai bekal. Pantai, juga punya pelajaran penting: "jangan berumah di tepinya". Karena sewaktu-waktu ombak dan gelombang menerjang. (ODPT-Palopo, 24 Juli 2016).

Bersungguh-sungguh akan beroleh hasil. Pepatah Arab: "Man jadda wajada", artinya "Siapa yang bersungguh-sungguh akan memeroleh hasil". Kesungguhan dalam suatu usaha menjadi satu faktor penting untuk meraih keberhasilan. Tentu, suatu kesungguhan mensyaratkan kesabaran, semangat menyala-nyala, kerja keras, dan keikhlasan. Artinya orang yang bersungguh-sungguh tidak mudah menyerah dan pantang putus asa. Di samping itu, ia akan terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya mengenai apa yang diusahakannya. Mereka yang bersungguh-sungguh selalu menikmati pekerjaan dan aktivitas yang sedang dilakukannya. Sudah menjadi ketentuan, suatu keberhasilan tidaklah dapat dicapai dengan usaha sekadarnya. Seberapa usaha yang dikerahkan, maka itulah hasil yang bakal diperoleh. Untuk itu, kita perlu menghindari melakukan atau mengerjakan sesuatu dengan cara biasa-biasa saja dan tidak sepenuh hati. Membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu dapat membentuk karakter sebagai pribadi atau pekerja yang tangguh. (ODPT-Palopo, 23 Juli 2016).

Salah satu yang menjadi kenyataan hidup. Bahkan, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Manusia akan selalu berhadapan dengan beragam pilihan. Setidaknya dua pilihan akan suatu hal: setuju atau tidak setuju, ikut atau tidak ikut, mau atau tidak mau. Tentang nilai misalnya, menempuh yang baik atau meninggalkannya. Dilema laksana memilih satu jalan di antara dua atau banyak jalan. Yang sulit dan membingungkan untuk memilihnya. Dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengatasi dilema. Bagaimana seseorang seharusnya menentukan sikap dalam memilih pasangannya; bagaimana berpendapat atas suatu masalah yang pro-kontra; dan bagaimana mengambil suatu keputusan yang bahkan merugikan diri sendiri?. Dalam ajaran agama, jika menghadapi dilema tetap memohon petunjuk Allah swt. Memohon pula diberi kekuatan untuk menerima hasil setiap pilihan. Hidup memang selalu dengan pilihan. Semoga Allah swt. senantiasa membimbing kita. (ODPT-Palopo, 22 Juli 2016).

Dorongan beramal bagi kaum Muslim sangat kuat. Antara lain dipahami dari ayat-ayat al-Quran yang menyatakan amal yang baik dilipatgandakan balasannya. Allah swt. berfirman: "Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipatnya; dan barang siapa membawa perbuatan yang buruk, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengannya, dan mereka sedikit pun tidak dianiaya", (QS. al-An'am/6: 160). Ayat ini berbicara tentang pembalasan Allah swt. terhadap suatu amal. Bahwa amal baik ganjarannya bukan hanya tidak dikurangi, bukan juga diberi ganjaran yang adil, tetapi mereka mendapat anugerah Allah berupa ganjaran yang berlipat ganda. Sedangkan bagi mereka yang melakukan keburukan akan memeroleh balasan yang adil, setimpal dengan perbuatannya. Bahkan tidak sedikit yang dimaafkan. Dalam Hadis Nabi Muhammad saw. diterangkan bahwa niat melakukan kebaikan apabila tidak dilaksanakan sudah tercatat sebagai satu kebaikan. Jika dilaksanakan tercatat sebagai sepuluh kebaikan hingga tak terhingga. Demikian pula, niat melakukan suatu keburukan, jika tidak dilaksanakan akan dicatat sebagai satu kebaikan. Jadi, mari berniat dan beramal yang baik. (ODPT-Palopo, 21 Juli 2016).

Lebih pintar dari pemain itulah istilah untuk penonton. Pemain bola yang hebat, pebulu tangkis, atau apapun, bisa dengan mudah "dibodoh-bodohin" atau dinilai bodoh oleh penonton. Padahal, boleh jadi penonton itu bukan ahlinya. Sehingga, ia pun sebenarnya lebih tak bisa alias mungkin lebih bodoh. Ada hal yang kurang lebih serupa. Kadang dijumpai dalam pergaulan sehari-hari. Ada orang kalau bukan dia yang mengerjakan dianggapnya jelek. Orang lain tak pernah baik dan benar pekerjaannya. Dimungkinkan hal serupa ini termasuk "gangguan mental". Belum ada suatu contoh mengenai sesuatu apapun itu kecuali tetap ada yang pro atau kontra. Ada-ada saja yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang kurang. Penonton irihati, nah tipe ini adalah seseorang yang setelah keberhasilan orang lain, lalu tepuk dada dan mengatakan kalau ia juga bisa. Parahnya, biasa disertai tindakan kecil yang keliru. Misalnya, menabur paku di jalan agar ban mobil tetangganya kempes. Atau mencari-cari kesalahan padahal yang sebenarnya ia irihati. Semoga kita bukan tipe penonton seperti ini. (ODPT-Palopo, 20 Juli 2016).