Back to Top
 
 
 
Kolom Rektor

Kolom Rektor

Catatan lepas oleh Rektor IAIN Palopo Bapak Dr. Abdul Pirol, M.Ag

Nabi Muhammad saw. berupaya keras agar paman beliau, Abu Thalib, mengucapkan dua kalimat syahadat. Usaha keras Nabi saw. diisyaratkan dalam al-Quran. Allah berfirman:"Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (Q.S. al-Qashash/28: 56). Nabi saw. melakukan upaya tersebut sebagai bukti cinta beliau kepadapamannya. Sebagaimana kita ketahui, paman beliau ini, Abu Thalib, meskipun tidak menyatakan keislamannya tetapi sangat mengasihi dan menyayangi Nabi. Abu Thalib juga memasang badan dan memberikan perlindungan kepada Nabi saw. dari segala gangguan masyarakat Makkah yang masih belum beriman kepadanya. Karenanya Nabi Muhammad saw. sangat kehilangan dan berdukacita tatkala pamannya Abu Thalib wafat. Betapapun Nabi saw. sangat mencintai dan menginginkan pamannya mengucap syahadat, tetapi Allah lah yang memberi hidayah. (ODPT-Palopo, 8 Agustus 2016).

Meskipun terbuat dari emas, burung tetap tak suka di dalam sangkar. Hidup dalam sangkar emas bagai dalam penjara. Mengandaikan rumah mewah, tetapi penghuninya merasa tak nyaman. Atau kehidupan yang penuh kemewahan, tetapi orang-orangnya merasa sengsara. Boleh jadi terpenuhi segala kebutuhan material, tetapi tidak demikian dengan kebutuhan ruhaniahnya. Berada dalam sangkar berarti hilangnya kebebasan. Mereka yang berada di dalam harus tunduk dan menyesuaikan diri serta membatasi keinginan. Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang bisa menjadi sangkar. Keinginan kita kadang justru membatasi yang bisa kita lakukan. Sebagaimana pikiran kita yang turut menentukan luas atau sempitnya dan cerah atau suramnya dunia. Terlalu banyak keinginan dapat menjadi belenggu yang membatasi gerak seseorang. Kita juga kadang-kadang merasa terbatasi oleh harapan yang dibebankan kepada kita. Allah swt. Maha Besar tidak membebani umatNya kecuali menurut kesanggupannya. Menyembah hanya kepadaNya membebaskan manusia dari segala belenggu. (ODPT-Bojo, 7 Agustus 2016).

Bumi Nanggroe Aceh Darussalam lebih sepuluh tahun yang lalu (26 Desember 2004) diguncang gempa dengan kekuatan 9,3 skala Richter. Dua jam kemudian air bah mengikis habis semua yang dilewatinya dan ratusan ribu nyawa melayang. Demikian, tsunami melanda Aceh. Kejadian ini, tampaknya terjadi tanpa ada yang menduga sebelumnya. Dahsyatnya tsunami menunjukkan kemahakuasaan Allah dan ketidakberdayaan manusia di hadapanNya. Salah satu akibat yang bisa disaksikan dari tsunami di Aceh berkurangnya luas daratan. Kejadian ini tentu mengakibatkan pula kesedihan yang tak terperi dan mengundang keprihatinan yang mendalam. Doa demi doa untuk korban dan keluarganya akan terus dipanjatkan bagi keselamatan dan ketabahan. Hal terbaik bagi kita adalah menjadikan peristiwa tsunami sebagai pengingat akan kelemahan dan terbatasnya kekuatan manusia. Sehingga menjadikan kita lebih pandai bersyukur atas segala perlindungan Tuhan dan selalu memohon rahmat serta hidayahNya. (6 Agustus 2016).

Menjelang subuh, waktu menunjukkan pukul 03.40 wilayah Jakarta, aktivitas mengamen masih terlihat. Rupanya mengamen tidak hanya di waktu siang hari. Demikian, cara sebagian anak bangsa berusaha memenuhi kebutuhannya. Malam beraktivitas dan siang harinya istirahat, tidur. Kita tidak tahu persis bagaimana mereka menjalani hidup seperti itu. Karenanya fungsi malam telah bergeser dari saat beristirahat berganti saat bekerja bagi sebagian pengamen. Malam hari bagi kaum Muslim, juga menjadi waktu khusus untuk ibadah shalat tahajjud. Bagi mereka yang melaksanakannya menjadi media berkomunikasi kepada Sang Khalik. Beban hidup ataupun harapan tentang masa depan, dikomunikasikan kepada Sang Khalik secara khusus. Selain itu, malam hari dengan ibadah shalat tahajjud menjadi media bagi kaum Muslim yang ingin meningkatkan spiritualitasnya dan mengharap rahmat karunia Sang Khalik. Pengamen telah menambah aktivitas malam selain istirahat dan beribadah bagi kaum Muslim. Apapun, bagi kita yang terpenting adalah melakukan aktivitas bermanfaat untuk waktu yang panjang. (ODPT-Jakarta, 5 Agustus 2016).

Kehidupan adalah satu sistem besar. Bagian-bagiannya juga membentuk sistem-sistem tersendiri. Individu manusia adalah bagian dari sistem itu dan bahkan sebagai individu, manusia juga adalah sistem tersendiri. Ketika berkelompok manusia kemudian mengatur interaksinya dalam satu sistem. Keberhasilan dan kelanggengan kelompok sangat ditentukan oleh baik atau tidaknya sistem mereka berjalan. Suatu sistem dikatakan berjalan dengan baik manakala anggota dari sistem itu paham dan menjalankan aturannya secara baik. Sebagai ilustrasi, seorang penumpang kapal yang melubangi kapal hingga bocor dapat mengakibatkan kapal tenggelam. Hal ini menunjukkan perbuatan satu orang dapat merugikan keseluruhan orang dalam satu sistem yang sama. Maka, untuk mencapai keberhasilan, usaha harus dapat diorganisasikan dalam satu sistem yang teratur. Bahkan suatu kebenaran pun hanya dapat bertahan jika ditopang sistem yang baik. "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir", demikian ungkapan Ali bin Abi Thalib ra. Jika menjadi bagian dari sistem, jadilah yang terbaik. (ODPT-Jakarta, 4 agustus 2016).

Belakangan ini mulai dikenal meluas profesi sebagai motivator semisal Pak Mario Teguh dengan acara "Golden Ways"nya. Sesuai gelarnya, seorang motivator bertujuan memberi motivasi agar orang-orang lebih bersemangat dan berpikir serta melihat berbagai permasalahan hidup secara positif. Sehingga, bagi seorang motivator, seberat apapun masalah selalu ada pikiran dan jalan keluarnya. Karena itu, profesi sebagai motivator adalah profesi yang mulia. Tentu tidak mudah menjadi seorang motivator. Menjadi motivator diperlukan bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, dan kecerdasan yang dilandasi ketulusan. Ketulusan untuk membantu orang-orang agar dapat memimpin diri dalam perjalanan hidup. Hal ini menjadi satu faktor penting kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Karena permasalahan hidup bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga menyangkut keterampilan mental-rohaniah. Tidak mustahil, seseorang frustasi dan memiliki persoalan hidup karena ketidakbahagiaan dalam rumah tangga, misalnya. Maka, motivator memberi sudut pandang agar seseorang yang mengalaminya bisa beradaptasi secara wajar dan menemukan solusi. (ODPT-Makassar, 3 Agustus 2016).

Waktu berlalu dan kita bisa menilai hal yang tidak kita lakukan. Padahal sungguh sekarang kita menyesal tidak melakukannya. Mengapa dahulu tidak aku lakukan?. Begitu kita bertanya kepada diri sendiri. 
Tanpa kita sadari hal itu dapat terulang kembali. Saat waktu kita yang sekarang ini kita biarkan lagi berlalu seperti dahulu, yang kita sesali itu. Mengapa?. Karena kita mengabaikannya dan membiarkannya pergi begitu saja, Nanti, kita pasti akan merindukannya. Jadi, peluklah ia sekarang dan berbaik-baiklah dengannya. Semoga meskipun nanti akan menyesal, engkau tidak terlalu menyesalinya. Semangat! (Spesial ODPT, 2 Agustus 2016).

Menempuh pendidikan ibaratnya merengkuh harapan di masa depan. Di antara orang tua biasanya membincang perubahan yang terjadi pada anaknya setelah pendidikan yang dialami anak mereka. Ada yang menyatakan heran dengan anaknya yang lebih sering ke masjid dan peduli dengan keadaan rumah. Maksudnya, jika di rumah rajin membersihkan dan membantu pekerjaan rumah. Ada juga anak yang terang-terangan menyatakan kepada orangtuanya, tentang keinginannya untuk tetap sekolahhingga ke perguruan tinggi. Meskipun, anak tersebut menyadari keadaan ekonomi orangtuanya. Memang, keberhasilan pendidikan lebih mudah dilihat pada transformasi yang terjadi pada anak didik. Beberapa anak yang berasal dari keluarga tak mampu, ternyata berhasil mentrasformasi dirinya menjadi anak yang sukses. Keberhasilan mentransformasi diri seorang anak, dipengaruhi beberapa faktor: mentor atau guru, lingkungan, materi pelajaran, dukungan keluarga, dan faktor individu anak itu sendiri. Menemukan guru yang tepat dapat menjadi keberuntungan bagi seorang anak. Untuk semua hal, kita perlu terfokus pada capaian transformasi setiap pembelajar. (ODPT-Palopo, 1 Agustus 2016).

Zaman berubah, orang-orang tidak berubah?. Idealnya, zaman berubah dan orang-orang menyesuaikan. Tentu, sejauh perubahan yang terjadi adalah perubahan yang positif. Zaman dan perubahan serta manusia dengan pemikirannya merupakan hal yang tidak terpisahkan, satu dengan yang lainnya saling memengaruhi. Jadi, tidak seharusnya dipertentangkan. Sebaik-baiknya terjadi linearitas dan interaksi dinamis yang positif. Beradaptasi dengan zaman memerlukan kecerdasan. Ulama menyatakan: "Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik". Karena itu, tidak semua yang baru langsung diambil tanpa pertimbangan. Secara alamiah generasi berganti, yang tua digantikan yang muda. Bertahan dengan konsep lama yang ketinggalan zaman (out of date) dapat menjadi penghalang kemajuan. Memang diperlukan untuk hal ini, kemampuan membedakan api dari debu. Kita tidak boleh memertahankan debu dan membuang apinya. Semoga beda generasi tidak menjadi penyebab beda dalam semangat kebaikan dan orientasi kepada kemajuan. (ODPT-Tole-Tole, 31 Juli 2016).