IAIN Palopo – Yuda Satria Nugraha yang merupakan alumni Jurusan Pendidikan Matematika IAIN Palopo yang kini jadi mahasiswa S2 Magister Pengajaran Matematika FMIPA ITB, mengangkat Budaya Luwu di dunia internasional saat presentase International Conference on Teaching, Education, and Learning (ICTEL) di London, Inggris.

”Selaku orang tua, saya bangga. Karena anak saya mendapat kesempatan mempromosikan Budaya Tanah Luwu di kancah Internasional. Apalagi pas dengan nuansa Festival Keraton Nusantara (FKN) yang sedang berlangsung di Tana Luwu saat ini,” kata Hermawan, orang tua Yuda Satria Nugraha, Rabu (11/9).

Disinggung soal tips sukses anaknya, Hermawan mengungkapkan, sejak kecil Yuda diberi pendidikan akidah dan akhlak. Selaku orang tua, Hermawan senantiasa memberi contoh dan teladan kepada anaknya.
Bahkan, ia telah mendidik Yuda sejak masih dalam kandungan ibunya. Caranya, memberikan konsumsi makanan atau nutrisi yang halal ke dalam kandungan ibunya. Kemudian orang tua banyak mengaji baca alquran, bersedekah memberi makanan ke masjid, anak yatim, dan kalangan tidak mampu. ”Tidak ada itu obat pintar. Anak cerdas itu, makanan dan didikannya diberikan sejak dalam kandungan,” ucapnya.

Sejak SD, Yuda memang siswa yang berprestasi. Di SDN 80 Lalebata juara umum, di SMPN 1 Palopo juga juara umum terus, di SMAN 3 Palopo juara umum juga, dan di IAIN lulus terbaik dengan predikat kumlaude.

Juga langganan juara MTQ di Palopo. Pernah pula juara hafal alquran, dibuktikan dengan banyak di rumahnya. Pernah juara tiga nasional karya tulis ilmiah yang diadakan ITB tahun 2016. Waktu itu, Yuda masih kuliah di IAIN. Dan segudang prestasi lainnya.

Di Bandung, Yuda mendapat amanah Ketua Komunitas LPDP se Bandung Raya (Lembaga Pengelola Dana Keuangan Kemenkeu). Dan kini, diangkat sebagai Imam Masjid dan Khatib di lingkungan dekat kampus ITB. Itu berawal ketika salat Jumat, tidak khatib. Spontan Yuda maju ke depan untuk baca khutbah karena Salat Jumat tidak sah tanpa khutbah. Setelah itu, pengurus masjid mengangkatnya jadi Imam sekaligus khatib.

Hermawan juga sangat bersyukur, karena walau pun ia hanya ASN dengan gaji yang pas-pasan, namun anaknya bisa kuliah di kampus ternama Indonesia yakni ITB. Bahkan bisa presentase di Inggris. ”Kalau mengandalkan gaji saya, mana mungkin saya bisa biayai anak kuliah di Bandung. Tapi itulah kuasanya Tuhan,” ucap Hermawan. (ikh/Hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *