IAIN Palopo- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Tahun Akademik 2019/2020, resmi dibuka oleh Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo, Dr. Abdul Pirol, M.Ag, yang berlangsung di Pelataran kampus II IAIN Palopo, Rabu (28/8/2019)

Dengan mengusung tema “Era 4.0 dalam Sipakatau, Sipakalebbi dan Sipakainge” sejalan dengan kemajuan bangsa “Menuju SDM Unggul, Indonesia Maju” numun tetap melekatkan budaya lokal, sesuai visi IAIN Palopo “Terkemuka dalam Integrasi Keilmuan Berciri Kearifan Lokal”

Seremonial berlangsung meriah diawali tarian lokal Sulawesi Selatan, yaitu Tarian Padduppa oleh UKM Seni Sibola, sebagai sambutan awal pengenalan budaya lokal pada peserta PBAK, dilengkapi baju adat yang dikenakan oleh Rektor, para Wakil Rektor dan Anggota Senat.

Diungkapkan Rektor, bahwa IAIN Palopo garda terdepan dalam menjaga kearifan lokal dan menjaga NKRI. Hal ini merupakan tugas bagi civitas akademika bagaimana menjaga keutuhan bangsa ini.

“Semuanya adalah saudara, termasuk warga Papua, Papua is Indonesia, kalau tahun lalu ada mahasiswa kita dari Papua, apakah disini ada dari Papua” tanya Rektor yang disambut aplaus mahasiswa baru.

Ditambahnya, bahwa sikap akademik itu tidaklah melahirkan sistem partisan, dukung mendukung untuk sebuah kepentingan. Akademika sesungguhnya berangkat dari nilai-nilai kebenaran sehingga mereka inilah disebut cendikia sesungguhnya.

“Cendikia itu selalu melahirkan analisis dalam bertindak, sehingga apa yang dilakukan ada argument yang dapat yang dipertanggungjawabkan” terang Rektor.

Sebelum menutup sambutannya, Rektor menyebutkan bahwa saat ini kita berada di era revolusi industry 4.0, dimana perubahan begitu cepat. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi seluruh pihak untuk mau berubah, menjadi individu-individu pembaharu namun tidak meninggalkan ajaran orang tua, seperti Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi.

Ketua Panitia PBAK, Dr Takdir, menyebutkan bahwa PBAK ini berlangsung empat hari, 28 hingg 31 Agustus 2019, dengan mengusung tema “Era 4.0 dalam Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi”. Tema ini mengambil makna yang begitu dalam, dimana mahasiswa diharapkan mampu menjawab tantangan era 4.0 yang seluruh serba digital.

Namun tidak melupakan nilai-nilai leluhur. Dengan era 4.0 ini, jangan sampai mahasiswa kebablasan membuat mereka sibuk dengan dunianya sendiri, tidak lagi care dengan lingkungan.

“Dengan menanamkan nilai-nilai ini, diharapkan hadirnya generasi-generasi milenial pembaharu dibidangnya masing-masing, namun juga pribadi-pribadi yang humanis” tutupnya.

Sementara Presiden BEM IAIN Palopo, Ari Putra Daliman, saat berkesempatan memberikan orasi menyampaikan bahwa, adapun para mahasiswa yang bergabung di IAIN Palopo merupakan orang-orang yang beruntung, pasalnya ada banyak calon mahasiswa yang ingin kuliah di IAIN Palopo namun tidak kesampaian.

Mahasiswa merupakan agen of change, sebagai agen perubahan, masyarakat intelektual diharapkan memiliki kepekaan sosial, “saya mengutip Tan Malaka bahwa kemewahan dari pemuda itu adalah ketika mereka masih memiliki idealisme” (humas/Jn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *